Google+ Followers

Rabu, 02 September 2015

Jadilah Seseorang yang Dirindukan


Tulisan ini terinspirasi dari obrolan saya dengan sahabat saya beberapa waktu yang lalu. Sahabat saya ini bekerja di poli fisioterapi rumah sakit milik pemda Ponorogo. Dia cerita tentang salah satu rekan kerjanya yang dalam satu hari bisa dapat pasien visit 3 kali lebih banyak darinya.

Pasien visit itu pasien yang perawatannya dilakukan di rumah. Jadi, setelah jam kerja di rumah sakit selesai, para pegawai rumah sakit bisa cari tambahan dengan melakukan visit ke rumah pasien yang minta diterapi atau dirawat di rumah. 

Singkat cerita, sahabat saya ini penasaran. Kenapa banyak orang yang ingin diterapi rekannya ini. Untuk lebih gampangnya, kita sebut saja si rekan kerja ini Mawar si A.

Dari segi profesionalitas in shaa Allah sahabat saya tidak kalah. Sama-sama disiplin dan bagus etos kerjanya.  Namun memang dari segi masa kerja, A  bisa dibilang golongan senior yang pengalamannya tentu saja lebih banyak darinya yang baru beberapa tahun bekerja.

Di sisi lain, bila dilihat dari ketelatenannya, sahabat saya bilang dia dia tidak jelek. Bahkan menurutnya, dia lebih telaten. Dalam latihan fisik misalnya, jika waktu yang dibutuhkan satu jam, maka satu jam itu sahabat saya akan melakukan terapi fisik yang dibutuhkan. Dan itu juga sudah diakui oleh beberapa pasien visit-nya. Sementara A melakukan hal yang sama sekitar 30 menit saja. Selebihnya memberi instruksi ke pasien untuk latihan ini dan itu sendiri setelah diterapi.

Saking penasarannya, sahabat saya ini memberanikan diri bertanya resep yang dimiliki A ini. Untungnya, A termasuk orang yang tidak pelit ilmu dan pelit resep :D.

Nasihat dari A sederhana saja tapi cukup makjleb dan bikin mikir. Apa katanya?

“Jadilah seorang fisioterapis yang dirindukan pasien”.

Caranya?
Jalinlah komunikasi yang baik dengan pasien dan keluarganya. Yang paling utama tentu pasiennya.

A kemudian bercerita, dia suka ngajak pasiennya ngobrol dan guyon. Dan itu menjadi kuncinya. Pasien tidak suka hanya dilatih meski secara prosedural latihannya benar. Pasien butuh lebih dari itu: komunikasi yang baik dan motivasi.

Jadi, latihan fisik 30 menit cukup. Setelah itu, beri instruksi latihan yang bisa dilakukan pasien sendiri. Selebihnya, ajak pasien ngobrol tentang hal-hal yang disukai dan membuatnya semangat. Karena obat paling mujarab bukan resep dokter, tapi motivasi dan hal-hal yang membuat bahagia.  Yang perlu digaris bawahi, TIDAK BOLEH TERKESAN MENGGURUI.

Dan itu terbukti.

Suatu hari, karena A mengalami kecelakaan, sahabat saya diminta menggantikannya visit ke pasien selama beberapa kali. Si pasien seorang laki-laki sepuh dan mengalami stroke.  Begitu A sembuh, pasien minta A yang melatih kembali.

Kenapa?

Istri pasien tersebut bilang ke sahabat saya, kalau Bapak (suaminya) lebih senang diterapi A. Bukan berarti sahabat saya tidak bagus cara terapinya. Bahkan si ibu ini mengakui sahabat saya jauh lebih telaten untuk urusan latihan fisik.

Tap Bapak merasa lebih sreg dengan si A. Hal ini bisa dimengerti karena latihan fisiknya banyak skin to skin. Terapis harus menopang dan memegang tubuh pasien. Karena sahabat saya perempuan, si pasien tidak terlalu lepas menjalani terapi.

Selain karena sama-sama lelaki, A juga pintar ngajak ngobrol Bapak. Dan itu membuat Bapak senang sekaligus nyaman, begitu kira-kira yang dibilang si ibu itu.

A juga menambahkan, bila kita sudah bisa mengambil hati dan dirindukan orang, in shaa Allah kita tetap akan dicari dan ditunggu meski ada pengganti. Karena orang itu telah menaruh kepercayaan besar ke kita. Jadi wajar, bila A bisa dapat pasien lebih banyak dari sahabat saya.
 
Dari sharing pengalaman A tadi, saya dan sahabat saya kemudian sepakat untuk punya satu tekat yang sama: harus menjadi orang yang dirindukan apapun profesinya. Bukan hanya dari etos kerja, tapi juga cara berkomunikasi dan sikap kita. Tentu saja semua harus dilakukan dengan tulus. Karena ketulusan itu meski tidak terlihat bisa terasa. Dan bila sudah menjadi orang yang dirindukan dan dipercaya, hanya menjaga kepercayaan itu.

Satu pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman A: ilmu yang tinggi tidak akan punya arti bila kemampuan berkomunikasi dan attitude-nya NOL. Karena bagaimanapun, manusia tetap menjadi objek dari ilmu dan profesi kita.  

Jadi, sudahkah teman-teman menjadi orang yang dirindukan?
Yuuk belajar untuk itu ^_^.

post signature

29 komentar:

  1. Nice post maksist...

    Komunikasi dan attitude adalah hal yang mahal tetapi sering kali dianggap murah, untuk profesi-profesi medis, kedua hal itu adalah support utama terhadap proses kesembuhan pasien.

    Menjadi orang yang dirindukan jelas tidak mudah, tapi wajib diusahakan.^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makacih Maksist ^_^
      Yup, bukan cuma di wilayah medis saja. Semua profesi butuh dua hal itu.

      Hapus
    2. belajarin desaignya dong bund :)

      Hapus
    3. Hehehe, sy juga masih gaptek soal desain Mbak. Ini utak atik poto ajah pake photo editor XD

      Hapus
  2. Hmm...jadi musahabah diri sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, sy juga jadi nengok diri sendiri. Sdh seperti A belum ya. Ternyata masih jauh huhu :)

      Hapus
  3. ketrampilan berkomunikasi itu keahlian yg mahal harganya ya mbak.

    salut sama si A tadi. biasanya kaum adam ga suka bicara heart to heart lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mbak Diah.
      Tapi emang menurut temen saya ini orang asyik. Ke yg muda bisa ngemong, ke yg lebih sepuh bisa jadi teman.

      Hapus
  4. Intinya: berusaha yuk, agar orang-orang disekitar merasa kehilangan klo kita nggak ada di dekat mereka....

    BalasHapus
  5. Duh lama juga aku nggak dolan kesini.
    Berusaha sebisa mungkin memberi manfaat pada orang di sekeliling kita ya Vhoy, sekecil apapun kalo bisa bikin orang senang, bakal berkah.

    BalasHapus
  6. Ada yang merindukan saya nggak ya hihihi. Kalau saya mungkin nggak cocok jadi terapis begitu. Soalnya agak introvert dan sungkanan hehe jadi ga bisa terlalu cepat dekat dgn orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, sy pada dasarnya introvert juga Mak. Tdk bisa open tentang diri sy. Tp sejak ngajar anak2, sy dituntut harus banyak bicara sama mereka, banyak tanya meski tentang hal2 yg (menurut sy) ga penting. Trus srg ketemu dan konfirm perkembangan ke ortu mereka, akhirnya lama kelamaan ternyata bisa juga sy ngobrol sama orang hihi! Mak Heni pasti juga bisa. Practice makes perfect ^_^

      Hapus
  7. Wah, terima kasih sudah diingatkan, Mbak. Saya masih belajar nih ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama2 Mbak. Ini juga pengingat buat sy yg masih belajar juga hehe

      Hapus
  8. Semoga saya juga jadi orang yang dirindukan, bukan disebelin kalau ada atau disukurin kalau ga ada. iih.... amit-amit, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, saya ikutan berdoa juga aahh ^_^

      Hapus
  9. iyaaaaaaaaaaaa bener... kalau nyenengin pasti mintanya sama itu lagi...saya juga gitu... :")

    BalasHapus
  10. Memang bahagia rasanya jika jadi orang yang dirindukan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup Mak. Pasti Mak Rahma termasuk orang itu ^_^

      Hapus
  11. Wah susah nih jd orang yg dirindukan.. paling anak2 dan suami aja yg rindu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Lelya termasuk orang yg dirindukan kok, termasuk dirindukan tulisan2nya :)

      Hapus
  12. wah.. aku dirindukan gak ya mak?? hehe... menjalin komunikasi yang enjoy dan menyenangkan kayak gitu tuh susah banget loh bagi beberapa orang... Karena gak semua orang bisa membuat enjoy orang lain, membuat orang lain senyum dan bahagia :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak. Aq jg termasuk yg krg bisa komunikasi. Jadi belajar trus ini hihihi

      Hapus
  13. Selain ketrampilan komunikasi, pastinya si A bicara ihlas (pakai hati), jadi sampainya jg ke hati.

    BalasHapus
  14. Suka bacanya...makasih yah sudah dishare..

    BalasHapus
  15. aku sudah belum ya? atau jangan2 gak ada yg merindukanku #hiks

    BalasHapus