Google+ Followers

Kamis, 31 Desember 2015

Peduli Sesama Melalui Bulan Dana PMI





Bagi saya, PMI adalah penyambung nyawa. Terdengar berlebihan? Tidak bagi orang yang pernah merasakan jasa PMI.

Seperti kejadian sekitar 6 tahun lalu. Akhir Desember 2009, salah satu keponakan saya terkena DB lumayan parah. Ketika tiba di rumah sakit kondisinya sudah kritis. Hb-nya sangat rendah. Terlambat sedikit saja mungkin tidak tertolong, demikian kata dokter yang menangani. Beruntung pihak rumah sakit cukup cekatan. Keponakan saya langsung masuk ICU. Dokter bilang harus segera transfusi untuk mengembalikan hb normalnya.

Merry di Mata Mereka dan Rahasia Penyakitnya


Sebelum melanjutkan cerita Ustadzah Yuli, saya ingin cerita satu pertanyaan yang masih mengganjal di hati saya, kenapa Merry tidak memberitahu kami tentang penyakitnya.

Dan ketika tiba di Pati, saya baru mendapat jawabannya.

Begitu Merry  mendapat hasil diagnosa penyakitnya, hanya satu di antara kami yang diberitahu: Lilik yang juga tinggal di Pati. Dia berpesan jangan sampai teman-teman tahu. Waktu Lilik bersikeras akan memberi tahu kami, Merry tetap melarangnya. Dia tidak mau kami mengkhawatirkan keadaannya.  Ya Allah, Merry ... Merry memang tidak suka merepotkan. Tapi bila kondisinya seperti ini, sungguh satu hal yang menyesakkan bagi kami.

Rabu, 30 Desember 2015

Takziyah ke Pati


Hingga Senin pagi, saya belum bisa berangkat ke Pati. Alhamdulillah, sekitar jam 9 pagi ada titik terang. Retno, teman saya, mengabarkan kalau pihak pesantren almamater kami akan takziyah ke Pati. Kebetulan Retno mengajar di almamater. Sehingga bisa langsung menyampaikan berita duka ini ke pihak pesantren.

***************************************
Silakan baca cerita sebelumnya: Kabar Duka #1
                                                Kabar Duka #2
****************************************           

Saya bilang saya ikut. Retno menjawab OK. In shaa Allah kami bakal berangkat hari Selasa, sekitar jam 10 malam. Urusan sopir dan kendaraan dari pesantren. Begitu Retno bilang di WA. Alhamdulillah. Saya mengiyakan saja. Buat saya yang penting berangkat dan sampai ke Pati. Saya juga mengabarkan ke teman-teman di grup tentang hal ini.  Keberangkatan saya ke Pati memang bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga mewakili teman-teman yang tidak bisa hadir karena jarak dan juga waktu.

Tentang Merry


Nama lengkapnya Siti Maryam. Berasal Bojonegoro. Tapi kami, teman-temannya, biasa memangilnya Merry. Entah sejak kapan panggilan itu kami sematkan padanya. Satu kebiasaan kami memang memberi nama panggilan kepada satu sama lain. Selain memudahkan, juga menjadi panggilan sayang kami kepada teman itu.

Selasa, 29 Desember 2015

Kabar Duka #2


Kepergian Merry merupakan satu pukulan berat. Bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga kami teman-temannya. Merry di mata kami adalah orang yang sangat baik. Maka bukanlah hal aneh bila kami merasa sangat kehilangan.

++++++
Baca juga cerita sebelumnya: Kabar Duka #1
++++++

Hingga keesokan harinya, saya belum bisa berangkat ke Pati. Sedang hati sudah sangat tidak sabar untuk segera pergi.

Sementara di timeline FB, ucapan doa terus mengalir untuk Merry. Demikian juga di grup WA. Dari media sosial ini pula kami akhirnya tahu beberapa hal terkait penyakit Merry. Sebelum meninggal, ternyata Merry telah menjalani kemo yang pertama.

Kabar Duka #1



Minggu, 22 November 2015
Pukul 17.30

Saya dalam perjalanan pulang bersama keluarga dari takziyah ke salah satu kerabat. Hari sudah mulai gelap, menjelang maghrib. Ada sebuah panggilan masuk di HP saya. Nomor baru. Siapa ya?

Ternyata dari Nova, teman saya semasa Aliyah yang tinggal di Prigen. Dengan suara kacau, Nova mengabari saya kalau sahabat kami, Merry, meninggal dunia tadi pagi.

Deg. Saya shocked. Seketika itu juga badan saya melorot dari jok mobil yang saya duduki. Saya masih berusaha meyakinkan bahwa kabar itu tidak benar. Tapi Nova kembali mengulangi ucapannya.

Sungguh kabar yang sangat tak diharapkan. Rasanya tak dapat dipercaya. Sahabat saya yang super baik itu sudah pergi mendahului kami.

Bagaimana ceritanya? Dari mana Nova tahu?

Jumat, 25 Desember 2015

Ibu


Edited by canva.com

Sebagai anak yang introvert, saya kurang begitu dekat dengan ibu saya. Dekat di sini dalam arti suka curhat atau bermanja-manja cantik dengan beliau. Jadi, kalau ngobrol ya ngobrol biasa saja tanpa pernah saya ceritakan isi hati atau permasalahan-permasalahan saya.

Kamis, 24 Desember 2015

Kebanjiran #2


Ngomong-ngomong soal banjir, sepanjang ingatan saya, baru sekali Ponorogo dilanda banjir besar. Yakni saat pergantian tahun 2007 ke 2008. Beberapa desa di sekitar sungai Sekayu terendam banjir hingga setinggi dada manusia dewasa. Banyak orang mengungsi. Alhamdulillah rumah saya termasuk aman dari banjir. Jauh dari sungai dan tanahnya agak lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya.

Tapi tahun 2015 inilah akhirnya saya ikut merasakan banjir. Tentu tidak separah kejadian 8 tahun yang lalu. Tidak pula membuat keluarga saya mengungsi. Hanya perlu bebersih beberapa jam saja. Kemudian hidup normal kembali.

Kebanjiran #1


Assalamu’alaikum, Sahabat semua.
Apa kabar?
Lama tak menyapa. Semoga semua sehat ya, aamiin.

Tengok-tengok blog, jadi malu. Terakhir nulis awal November lalu. Artinya, sebulan lebih saya tidak aktif curhat di rumah virtual yang menyenangkan ini :D.

Kali ini saya datang masih dengan curhatan (lagi).

Di daerah sahabat semua, hujan sudah turun kan? Ponorogo sudah dari November kemarin. Alhamdulillah, senang rasanya. Setelah sekian lama kemarau –bahkan hingga bulan Oktober yang saat dipelajari di bangku sekolah dulu adalah awal siklus hujan dan ternyata belum turun juga-, akhirnya hujan mulai menyapa.