Google+ Followers

Minggu, 25 Januari 2015

Mie Pedas Gokil


Dapat ajakan makan siang gratis; siapa yang bisa nolak? Apalagi menunya kesukaan saya: mie. Ya, saya penyuka mie: mie ayam, mie instan, mie goreng, mie rebus, apapun yang berbahan mie.

Pada waktu yang telah disepakati, saya ketemu sahabat saya, Unuy, di sebuah kedai mie di jalan Tangkuban Perahu, Ponorogo. Kedai ini milik teman kami yang buka belum ada seminggu. Namanya kedainya Mie Pedas Gokil. Tempatnya cukup strategis. Ruangannya juga nyaman.

Sekedar info, di Ponorogo memang lagi demam warung mie. Ada yang namanya Omah Pedes, ada Mie Pedes, ada juga Mie Judes dengan tagline ‘pedasnya ngalahin lidah mertua’. Ada-ada saja memang hehehe! Dan semua menawarkan menu pedas dengan berbagai level. Tak terkecuali kedai teman kami ini.

Setelah melihat menu, kami memilih mie kuah telur + bakso. Minumnya es jeruk nipis dan es susu.  Saya memilih level 2 untuk rasa pedasnya. Saat saya tanya berapa cabenya, mas pelayannya bilang 6 biji cabe. Lumayan lah. Kebetulan saya belum makan dari pagi jadi saya tidak berani terlalu pedas. Sahabat saya memilih level 3; sekitar 9 biji cabe.

Tak lama, minuman pesanan datang. Es jeruk nipisnya seger banget. Asli. Kecut. Dan sari jeruknya banyak. Saya suka saya suka *ala Mei Mei :D. Es susu yang diminum sabahat saya juga kelihatan mantap. 10 menit kemudian, menu makan siang kami datang. Mie kuah telur + bakso. Cabenya asli. Diiris tipis-tipis dan dicampur ke dalam mie. Bijinya yang banyak tampak menempel di atas mie. Topping-nya telur mata sapi matang, 2 butir bakso, sawi, tahu goreng potong dadu, dan beberapa irisan timun. Hemmm, yummiii...
 
Mie kuah telur + bakso pedas level 2 & es jeruk nipis segerr

Biji cabe-nya nempel di mie.

Saat testing pedasnya lumayan di lidah. Mie-nya bulat gilig, kecil, dan panjang. Kok seperti mie instan ya? Setelah saya makan, ternyata benar. Ini mie instan pemain lama di Indonesia. Rasanya ayam bawang. Merk terkenal. Kok tahu?? Karena rasa mie ‘itu’ khas menurut saya. Serbuk bumbu yang menempel di mangkok juga semakin meyakinkan bila itu memang mie instan.

Untung saja kuahnya cukup menghibur kekecewaan saya. Kuahnya berwarna coklat gelap. Tidak bening seperti bila bikin sendiri di rumah dengan bumbu yang sudah ada. Artinya ini diberi bumbu tambahan selain bumbu bawaan mie-nya. Kuahnya juga tidak encer, agak sedikit kental. Pas. Enak. So, mari kita habiskan.

Tak butuh waktu lama, mie dalam mangkuk itu sudah berpindah ke perut. Lumayan mengenyangkan. Bikin mulut sedikit mendesis karena kepedasan. Es jerukpun habis tandas. Alhamdulillah...

O iya, sekedar info. Harga mie yang saya pesan tadi Rp. 9.000,- per porsi. Es jeruk nipis Rp. 3.000,-. Es susu Rp. 5.000,-. Masih terjangkau kantong kan?

Yang mau coba mie pedas level lainnya bisa datang ke sini yaa..

Kamis, 22 Januari 2015

About Me

Orang bilang, saya pribadi yang tertutup. Bisa jadi benar hehehe! Saya lebih suka cerita ke buku diary ataun laptop saya. Bahkan, saking tertutupnya, saat kuliah saya dianggap misterius oleh sebagian teman-teman saya hehehe! Tapi kalau sudah kenal aslinya, sebenarnya tidak se-ekstrim anggapan tadi yaa :D

Dulu, saya pernah bekerja di sebuah lembaga pendidikan informal di kota saya. Latar belakang kuliah saya bukan dari pendidikan, but I love children. Mungkin karena saya tidak punya adik, jadi saya suka sekali dengan anak kecil. 

Sempat menjadi broadcaster di sebuah radio di sini. Tapi sekarang sudah resign *jadi kangen pengen siaran lagi :((

Sekarang, pekerjaan saya adalah menemani anak orang untuk belajar. Alias guru les privat. Dan saya suka menyebutnya dengan independent learning coach.  Kedengarannya keren sekali kan?? *hehe sedikit maksa ini. Pernah baca tulisan Safir Senduk, Bahasa Inggris membuat hal yang sebelumnya murah naik kelas menjadi lebih mahal. Contohnya kopi hitam yang harganya Rp. 2000,- diganti menjadi black coffee jadi Rp. 15.000,-. Jadi, mudah-mudahan,dengan saya menyebut pekerjaan saya dengan gaya ng-Inggris tadi, harga yang dibayarkan ke saya juga naik heheheh!

Ada juga kesibukan lain, tapi tak perlu diceritakan di sini hehehe!

Membuat blog adalah hasil provokasi sahabat terkasih saya yang sudah cukup lama jadi blogger. Setelah baca sana sini, akhirnya jadilah blog ini. Mudah-mudahan bisa berbagi hal positif dan juga belajar hal positif dari teman-teman blogger semua. Kontak lebih lanjut bisa di evapurbayanti.ep@gmail.com


Salam




Selasa, 20 Januari 2015

BBM Oh BBM

Ini hari kedua setelah Presiden Jokowi mengumumkan perubahan harga baru BBM.  Sejak sehari sebelum harga  berubah, BBM sudah mulai langka di daerah saya. Keadaan mulai parah karena bensin eceran juga tidak ditemukan di mana-mana. Sementara, di mana ada SPBU, di situ antrean mengular panjang. Tak terkecuali di SPBU dekat rumah saya. Bahkan ada saudara teman saya yang mengantri hingga pukul 10.00 malam. Kemarin,  saya jua melihat ada beberapa tetangga saya yang mendorong motornya karena kehabisan bahan bakar.

Maka, dari semalam, saya sudah berencana. Pagi ini akan beli bensin di SPBU Jeruksing dekat rumah. Harapannya, antrean sudah berkurang. Toh, ini sudah hari kedua. Lagi pula harga sudah diturunkan -jika boleh dikatakan demikian. Tapi, siapa nyana. SPBU dekat rumah saya tutup. Ada tulisan 'BBM HABIS'. Waaa, bagaimana ini. Padahal tangki motor saya sudah hampir kering. Sudah di bawah garis merah. 

Akhirnya, saya pacu motor saya ke daerah Sinduro. Sepanjang jalan hati saya tak henti-henti berdoa supaya bensin saya cukup sampai di SPBU Sinduro. Namun, olalaaa... Di situ keadaan lebih parah. Antrean kendaraan sampai badan jalan. Beruntung motor saya bisa nyelip sehingga masih bisa masuk area SPBU.

Antrean nan panjang di depan mata. Di belakang saya masih ada sekitar 50 m antrean roda 2 dan roda 4. 


Apesnya, setelah ikut ngantri sekitar 10 menit, tiba-tiba antrean paling depan keluar berbalik arah. Kenapa ini? Ternyata, salah satu pegawai SBPU baru saja memasang pengumuman: premium dan pertamax habis. Bubarlah antrean panjang tadi. Kecuali kendaraan roda empat yang antre solar. 

Sambil keluar dari area SPBU, saya berfikir keras. Kira-kira siapa ya yang busa saya telpon kalau-kalau bensin saya benar-benar habis dan saya harus dorong motor? Belum sempat saya menemukan jawaban, tiba-tiba perasaan saya tidak enak. Begitu saya belokkan motor ke sebuah jalan alternatif, motor saya mengisyaratkan kalau bensin saya sudah benar-benar kering. Jalannya sudah mulai ngadat. Tambah paniklah saya. Mana tidak punya teman di dareah ini pula.

Ya Allah..., tolonglah hamba-MU...

Tiba-tiba ujung mata saya menangkap sebuah sepeda motor yang beli bensin eceran di sebuah toko. Dan motor saya benar-benar kehabisan bahan bakarnya tepat di depannya. Subhanallah wal hamdulillah.... 

Saya turun dari motor dan bertanya sama Bapak penjualnya; kira-kira masih ga bensinnya. Alhamdulliah, bapaknya bilang masih. Saya lihat tulisan di rak botol bensin tertulis: Rp. 7.500,-. Langsung saya minta isi 2 liter. Sambil mengisi tangki motor saya, si Ibu istri Bapak tadi bilang kalau untuk penjual eceran seperti mereka, pembelian dibatasi hanya boleh Rp. 150.000,- atau sekitar 22 liter saja.

Hemmm, entah sampai kapan kelangkaan ini akan berakhir. Semoga saja para pemangku kebijakan segera mendapat solusi untuk mengatasi hal ini. 
 

Belajar Ngeblog

Assalamu'alaikum, Blogger.

Akhirnya, setelah didorong oleh sahabat saya yang sudah lama jadi blogger, saya bikin blog juga. Semoga bisa banyak belajar di sini.

Salam