Google+ Followers

Selasa, 19 Januari 2016

Serunya Permainan Masa Kecil


Ngomongin masa kecil memang menyenangkan. Banyak kenangan lucu, konyol, bahkan absurd. Kok bisa ya saya dulu seperti itu :D. Tapi di antara semuanya, yang paling seru menurut saya dan sepertinya jarang saya temui di jaman sekarang adalah permainannya.

Saya yakin, hampir semua orang setuju sama saya. Permainan era ’90-an memang mengesankan. Dan bikin kangen buat main lagi. Nah, dari sekian banyak permainan, ada beberapa yang masih melekat kuat di ingatan saya. Baik permianan yang biasa saya mainkan di sekolah maupun di rumah.

Saat di sekolah dasar dulu, saya suka main gobak sodor dan betengan dengan teman-teman sekelas. Gobak sodor semua pasti sudah tahu ya. Kalau betengan itu permainan tim juga. Ada dua tim yang main. Dan jumlahnya harus seimbang. Laki-laki dan perempuan bisa jadi satu tim tanpa khawatir ada something trouble seperti jaman sekarang.

Kebetulan di belakang sekolah ada pekarangan yang sangat luas milik tetangga sekolah. Kami biasa main di situ. Masing-masing tim memilih satu objek untuk dijadikan daerah pertahanan alias beteng (benteng –Bahasa Indonesia). Biasanya kami memilih pohon besar. Jarak beteng antar tim ada sekitar 10 meter, bisa juga lebih. Cara bermainnya seperti perang gerilya itu. Masing-masing dari kami harus bisa merebut beteng lawan. Bagi tim yang berhasil merebut beteng lawan, dialah pemenangnya. Capek memang main betengan ini. Kami harus atur strategi, lari sana sini. Tapi seru!

Kalau di rumah, saya biasa main orang-orangan atau baju-bajuan. Di sini kami menyebutnya wong-wongan. Berasal dari kata Bahasa Jawa wong, yang artinya orang. Permainan ini memang hits banget saat itu. Sepertinya di semua daerah ada ya, dengan nama yang berbeda-beda. Biasanya, saya main sama teman sepermainan di rumah. Kebetulan, saat itu ada beberapa anak perempuan yang sepantaran saya di sekitar rumah. Dan kami sering main bareng.

Untuk main wong-wongan, kami juga melengkapinya dengan bikin rumah dari tanah. Waktu itu banyak halaman rumah yang masih berupa tanah. Dan itu jadi tempat favorit kami buat main. Tidak seperti sekarang, yang hampir semua disemen atau dipasangi paving stone.

Jangan bayangkan seperti bikin rumah-rumahan dari pasir pantai ya. Ini sekedar rumah sederhana. Jadi, kami bikin dinding rumah dari tanah itu. Nanti hasilnya seperti gambar sketsa rumah yang tampak dari atas. Dan rumahnya tanpa atap alias terbuka hehehe! Kami bikin beberapa ruangan seperti ruang tamu, kamar tidur, dan dapur.

Begitu rumah jadi, baru deh kami mulai main peran-peranan dengan wong-wongan yang kami punya. Masing-masing anak bakal memilih nama sendiri buat perannya. Dan kami main sandiwara, ngobrol kesana kemari sesuai peran kami dengan sok ber-Bahasa Indonesia. Kenapa saya bilang sok ber-Bahasa Indonesia padahal lingkungan kami adalah full Jawa? Tujuannya tidak lain dan tidak bukan biar kami keren gitu hehehe!

Kadang, kalau tidak ada teman, saya juga suka main wong-wongan sendiri di rumah. Saya jadi dalangnya karena tidak ada lawan main. Ngomong sendiri, dijawab sendiri, tertawa sendiri –eh bukan orang gila ya hehehe!

Selain main wong-wongan, saya dan teman-teman juga suka main pasar-pasaran. Jadi, salah satu dari kami bakal jadi penjual. Ceritanya, penjual pecel. Pecelnya terbuat dari daun-daun dan bunga yang diiris kecil-kecil. Sementara bumbu kacangnya terbuat dari tanah liat yang dikasih air. Nanti pecel-pecelan itu dibungkus daun.

Nah, untuk beli pecel, pembeli harus menyediakan uang. Uangnya berasal dari daun juga. Masing-masing ada nominalnya. Yang besar 500 rupiah. Yang kecil 100 rupiah. Saya lupa nama daun yang dipakai buat jadi mata uang itu. Karena sekarang di lingkungan saya sudah jarang atau bahkan sudah tidak ada lagi. Tapi, seingat saya, cuma daun itu yang selalu kami jadikan mata uang. Sementara buat masak-masakan selalu pakai dedaunan lainnya.  
Karakter wong-wongan masa kini

Itu tadi beberapa permainan yang dulu sering saya mainkan. Sepertinya, yang masih bertahan sampai sekarang hanya gobak sodor sama wong-wongan saja. Gobak sodor pun sudah jarang yang main karena lahan makin terbatas. Kalau wong-wongan sekarang sudah ada modifikasi tokohnya yang menyesuaikan kartun kesukaan anak jaman sekarang, seperti Putri Sofia dan Boboboi.

Jadi pengen main gobak sodor lagi. Siapa yang mau main sama saya? :D

****************************************
"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh  


post signature

Kamis, 14 Januari 2016

Bisakah Seorang Pendiam Berubah?


Saya adalah seorang introvert. Kurang bisa terbuka kepada orang lain. Cenderung menyimpan masalah sendiri. Sepanjang saya bisa mengatasi, maka bakal saya simpan sendiri. Kalau mentok, barulah saya cerita. Itupun sangat pemilih. Tak semua orang bisa menjadi tempat cerita saya. Pun itu sahabat-sahabat saya. Bukan berarti saya tidak percaya. Tapi saya punya pertimbangan sendiri. Si A cocok untuk berbagi cerita ini. Tapi belum tentu bagi si B yang lebih tepat untuk mendengar cerita itu. Buat saya, masing-masing orang memiliki karakter berbeda yang tepat untuk curhatan berbeda pula :D.

Jumat, 01 Januari 2016

Merry dan Leukimia


Melanjutkan postingan saya sebelumnya, sekarang saya akan bercerita tentang sakitnya Merry berdasarkan kisah dari Ustadzah Yuli, pengasuh pesantren tempat Merry mengabdi serta dari suami Merry.

Sekitar lebaran 2015 lalu, Merry sakit batuk. Lumayan lama dan tak sembuh-sembuh meski sudah ke dokter. Merry juga tampak pucat. Tapi Merry tetap semangat bekerja, tak memperlihatkan kalau dia sedang sakit.