Google+ Followers

Selasa, 09 Februari 2016

Nekat Lomba Berbuah Murka


Ini adalah cerita kenekatan saya dan beberapa teman ikut lomba yang berujung dapat murka.

Saat itu kami kelas 3 Aliyah. Suatu hari, kami menemukan info lomba mading tingkat SMA/sederajat di koran Jawa Pos. Tahu Jawa Pos kan? Salah satu koran nasional berbasis di Surabaya ini menjadi koran langganan pesantren tempat kami belajar.

Begitu tahu soal info lomba ini, otak saya langsung bekerja. Wow! Menarik ini, pikir saya. Kapan lagi bisa ikut lomba koran nasional kalau tidak sekarang. Apalagi masa jabatan kami sebagai pengurus OSWAH (semacam OSIS –red) tinggal menghitung hari. Setelah ini, kami bakal disibukkan dengan persiapan ujian kelulusan. Tak sabar, kami infokan ke beberapa teman yang pernah jadi redaktur mading tentang info lomba ini. Dan semuanya satu pemikiran: harus ikut!


Singkat cerita, terbentuklah redaktur mading dadakan buat lomba tersebut. Semua berjumlah 10 orang dan merupakan orang-orang terbaik di bidangnya. Ada yang jadi jurnalis, illustrator, dan lay outer. Semua lengkap.

Karena keterbatasan dana dan bahan mading, maka diputuskan dekor mading bertema alam. Jadi, saat sore kami ijin keluar asrama. Kami menyusuri jalanan kampung buat leles alias memungut apa saja yang jatuh dari pohon di pinggir jalan. Ada rupa-rupa biji –seperti biji asam, ada ranting-ranting kering, daun beraneka bentuk, dan masih banyak lagi. Ini bukan kreatif, tapi kere aktif :D

Saat ditanya oleh penduduk setempat, kami cuma bisa mesem malu-malu. Mungkin mereka heran, ini anak santri cantik-cantik kok mungut sampah, hahahaha!

Kami mengerjakan mading di sela-sela kegiatan pesantren. Beberapa malam kami lembur dan mengorbankan jam belajar malam guna mengejar deadline lomba. Tak lupa, kami minta ijin ikut lomba tersebut kepada salah satu Ustadz senior. Alhamdulillah, beliau memberi lampu hijau.

Sehari menjelang pengiriman mading ke Surabaya, kabar buruk kami terima. Kami tidak diijinkan ikut lomba oleh pimpinan pesantren. Duh, bagaimana ini? Masa mimpi ini harus terkubur begitu saja? *hallah :P.

Saya ingat, malam itu malam Jum’at. Saya dan salah satu teman mondar-mandir ke bagian pengasuhan santri berusaha merayu Ustadzah supaya dapat ijin. Mungkin Ustadzah kasihan melihat kami. Apalagi beliau tahu kami sudah berhari-hari lembur. Akhirnya, kami diijinkan mengirim mading melalui pos. Alhamdulillah.

Dengan bekal ijin itu, Jum’at paginya, saya bersama Yana dan Irma Elly pergi ke kota. Pesantren kami berjarak sekitar 17 km dari pusat kota Ponorogo. Tapi tujuan kami bukan ke kantor pos melainkan ke terminal untuk pergi Surabaya. Ya, kami bertiga –mewakili tim redaksi- nekat mengantar langsung mading hasil kerja keras kami ke Graha Pena Surabaya; kantornya Jawa Pos. Tentu tanpa sepengetahuan Ustadzah yang memberi ijin, apalagi pimpinan pesantren hihihi! Kebetulan Yana berasal dari Surabaya, sementara Irma dari Sidoarjo. Jadi keduanya tahu rutenya.

Sepanjang perjalanan dari Ponorogo hingga Surabaya, saya mabuk terus. Entah berapa kali. Tahu-tahu, kami tiba terminal Bungurasih Surabaya saat sore. Kami langsung menuju rumah Yana di kawasan IAIN.

Malamnya, diantar ayahnya Yana, kami bertiga menuju Graha Pena. Konyolnya, begitu keluar dari mobil, saya muntah lagi. Rupanya efek mabuk belum hilang. Untung parkiran sedang sepi jadi tidak ada yang melihat saya.

Sebagai anak ndeso  yang baru pertama masuk ke dapur koran, saya cukup nggumun dengan suasana kantor redaksi Jawa Pos. Kerenlah pokoknya. Kami disambut mas-mas wartawan dan dibawa ke sebuah ruangan. Di sana sudah banyak mading yang terkumpul dan semuanya bagus-bagus. Kami jadi minder. Setelah difoto oleh mas wartawan kami pamit pulang.

Singkat cerita, kami kembali ke pesantren setelah dua malam kabur (ssttt jangan ditiru ya adik-adik :v). Hidup kembali normal seperti biasa. Tapi dalam hati kami juga was-was. Was-was kalau-kalau kami lolos lomba itu dan kami bakal ketahuan kabur. Baru kali ini ikut lomba tapi tak berharap menang, huhuhu!

Hingga akhirnya, hari pengumuman itu tiba. Nama sekolah kami terpampang nyata masuk 10 besar, berada di urutan kedua. Kabar gembira itu segera tersebar di kalangan teman-teman. Bangga, haru, campur senang. Anak pesantren yang konon kuper karena terkungkung di balik tembok asrama, bisa juga nyantol di lomba keren itu.

Tapi, euphoria itu hanya sebentar karena rasa takut segera menghantui kami. Dan ketakutan itu kemudian terbukti. Malam harinya, saya dan Yana dipanggil pimpinan pesantren. Bukan di kantor atau di ruang tertutup tapi di depan pendopo. Di tempat terbuka itu, kami berdua ndeprok di lantai pendopo jadi pesakitan. Santri kelas tertinggi dimarahi di depan umum. Adik-adik kelas yang lalu lalang tak luput menatap kami; entah kasihan entah ikut menyalahkan.

Tak cukup sampai di situ. Berikutnya, giliran Ustadz senior yang mengadili kami. Kali ini bertiga dengan Irma. Lagi-lagi di depan umum, di depan kantor administrasi. Duh Gusti, lengkap sudah penderitaan ini, ihicks. Tapi saya yakin bukan hanya kami bertiga yang kena semprot. Ustadzah yang memberi ijin kami pun pasti dapat jatah pula. Duuh, maafkan kami ya, Ustadzah :(.

Lepas dari rasa malu itu, sejujurnya kami terutama saya bangga. Jerih payah dan kreatifitas dengan segala keterbatasan kami ternyata membuahkan hasil yang tak terduga. Sampah-sampah kering hasil leles itu mengantarkan kami jadi finalis kedua. Sungguh tak disangka. Entah bagaimana kelanjutan lomba itu, karena seharusnya finalis ke Surabaya. Sementara kami tidak melanjutkan lagi.

Kini, berbilang tahun berikutnya, setiap kami –saya, Yana, dan Irma- telponan dan mengingat kejadian kabur itu, kami selalu ngakak. Tak ada sesal dan dendam. Tak apalah hanya kami bertiga yang mendapat murka, yang penting impian 10 orang nekat itu bisa terwujud.

Sampai kapanpun, kisah ini akan selalu bikin kami tertawa dan jadi bekal cerita buat anak cucu nanti :D.

*******************************
Tulisan ini diikutsertakan dalam GIVEAWAY NOSTALGIA PUTIH-ABU


post signature

70 komentar:

  1. Wah wah nekat tenan mbak. Hukumannya mabuk berkali2 ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe
      Kalo mabuk itu bukan hukuman bak. Aku emang anggota pemabuk kelas berat. Kalo naik bis selalu gt :D

      Hapus
  2. Akhirnya MakSist turun gunung buat ikut GA..hahah
    Seru yaa.. contoh tekad kuat nih..tinggal diperkuat merayunya aja biar gak bolos kalau ada yang mau nyontoh ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahihihihi! Baru balik nyawa ngeblognya MakSist :D

      Bisa, bisa. Asal jgn ditiru kaburnya ya hehehe

      Hapus
  3. ckckckckckck.....itulah rasanya diadili di pendopo,belum pernah kan???anak rajin sih..aku dong sering,sama iin pula wkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. iin yang mana ya mba?? hahahahahaha
      tapi be te we aq g' pernah tau lho cerita ini,.. :D :D

      Hapus
    2. Kalo dihukum udabbir ane juga pernah kelless. Ini yg murka Ibunda je huhuhu

      Hapus
  4. Kereeeeenn bgt mbak ceritanya. Aku bacanya sambil ngebayangin saat kabur dua malam itu. Hihihi....bakalan jadi cerita tersendiri ke anak cucu nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, jangan ikutan kabur aja ya Mbak :P

      Hapus
  5. Kok bisa mbak ngabur dua malam tanpa ketahuan? Pihak pesantren tahunya mudik pulang ke rumah, gitu..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah hasil konspirasi teman2 juga Mbak hihihi. Kan demi kepentingan bersama xoxoxoxo

      Hapus
  6. Keeeeereenn masa aliyahnya ya mak Vhoy... Menantang... Hihihihi

    BalasHapus
  7. Btw kenapa sih mba pimpinan pesantren ga ksh izin? Inikan lomba bgs ya utk nama baik sekolah juga..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beliau ada pertimbangan sendiri Mbak :). Sy agak lupa yg beliau katakan. Ingetnya ndeprok diliatin banyak orang huhuhuhu

      Hapus
  8. Banyak cerita ketika memakai seragam putih abu2 yang membekas hingga kini ya Mba.. Kalo diingat2 bikin kita tersenyum mengenangnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya Mak Rita. Banyak bgt kenangan yg bikin mesam mesem sendiri :D

      Hapus
  9. Menarik Mbak Pengalamannya. Saya suka cerita ini. Moga menang ya :D

    Tapi saya merasa tidak suka ketika pihak pesantren tidak menghargai sebuah kreativitas. Apa yg Mbak lakukan adalah wajar. Saya heran kenapa pihak pimpinan pesantren tidak mengijinkan? Bagaimana pesantren mau maju klo kayak gitu...Klo saya diposisi Mbak, saya akan melakukan aksi nekad yg sama. Tosss ;)

    Aku hargai usaha mbak. Good luck :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, pimpinan ada pertimbangan sendiri Mbak Rinta.
      Gpp, yg penting nekatnya berhasil. Coba kalo hasilnya ga lolos. Udah dimarahi, ga nyantol pulak hihihi. Mesti tambah disalahin xoxoxo

      Hapus
  10. Itu lomba mading yg diadain Deteksi kah Mbak?

    Wah, sayang ya nggak lanjut, tapi udah sbg finalis artinya emang cukup keren donk madingngnya :D

    keluargahamsa(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya Mbak. Itu awal2 munculnya rubrik Deteksi.
      Mbak April ikut juga kah?

      Hapus
    2. Nggak pernah ikutan Mbak hehe

      Hapus
  11. poin perjuangannya dapet, hebat bisa masuk finalis mbak :)
    tapi yang disayangkan dari kisah ini tentu pihak pesantrennya ya

    BalasHapus
  12. wih seruuuu ini mah, aku pasti juga melakukan hal tersebut.peluang jangan ditinggalkan

    BalasHapus
  13. Good story...hehehe...aku suka 'nakal' yg begini :)

    BalasHapus
  14. ceritanya bagus ...smoga menang ya...

    BalasHapus
  15. Hehehe lucu dan kocak yaa masa2 sma itu. Penuh dengan hal2 tak terduga




    Ipehalena(dot)blogspot(dot)com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, yups bener. Mak Ipeh pasti juga ngalami hal konyol kan ya :D

      Hapus
  16. Perjuangannya kereeenn.. Kalau saya jd ustadznya, setelah tau anak didik kita dpt juara 2, saya akan mendukung ke jenjang selanjutnya. :)

    Tapi mungkin ustadz2 punya pertimbangan lain ya mba? ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, makacih Mbak.
      Iyes, ada pertimbangan yg beliau lebih memahami :D

      Hapus
  17. 2 malam kabur gak ketahuan ya? Apa guru2nya tdk mengabsen atau menyadari kalo 3 santrinya raib?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tiap pelajaran ada absennya juga kok Mak. Tp teman2 di kelas dan di asrama pada kompak jd ga ketahuan hihihi

      Hapus
  18. hehehe nakal2 pintar ga apa ya mak....sy dulu jg nakal2 pintar :D

    BalasHapus
  19. saya sih banyakan kisah termehek mehek ama cowok kalau pas sma hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo sy malah ga ada Mak, secara di asrama cuma cewek hahahaha

      Hapus
  20. Bener2 nekat. Ya lumayan pengalaman kabur #eh masuk finalis mading

    BalasHapus
  21. Ikut lomba tak berharap menang, tapi dinyatakan sebagai urutan ke-2 dalam 10 besar itu bagaimana rasanya, Mbak? hihi beda yaa, kalau mengharapkan juara 1 tapi malah jadi yang ke-2

    BalasHapus
  22. zaman putih abu2 memang penuh kenangan, jiw amuda bis abikin kita nekad, tapi saya mah gak berani mbak soale dipantau ortu ehhe

    BalasHapus
  23. Lama aku gak mampir ya, maaf banget Vhoy. Wah ikutan lomba tapi perjuangannya berat banget. Udah muntah masih kena murka di depan orang banyak duuhhh

    Tapi jadi kenangan manis sekarang ya, jadi hiburan sama teman2 yg menjalani nasib sama, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh, gpp Bunda ;)

      Iya, ga bakal terlupakan pokoknya hihihi

      Hapus
  24. Lama aku gak mampir ya, maaf banget Vhoy. Wah ikutan lomba tapi perjuangannya berat banget. Udah muntah masih kena murka di depan orang banyak duuhhh

    Tapi jadi kenangan manis sekarang ya, jadi hiburan sama teman2 yg menjalani nasib sama, hehe

    BalasHapus
  25. KEREN. Sampe rela kabur dari pondok demi ngejar prestasi. Dan ternyata beneran menang! Emang bener ya, semua usaha pasti ada hasilnya :DD

    BalasHapus
  26. Hahahaa.. Lucu banget ini, kenangan masa SMA mah lucu dan selalu bikin senyum senyum sendiri kalau di kenang hihih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, kalo inget ketawa sendiri hihi

      Hapus
  27. hebat, cukup menginspirasi nih! nekad-nekadan jadi juara 2 yak?
    berani berjuang itu keren! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehehe, makaciih ^_^! Belum jadi juara sebenarnya, karena masih ada tahap berikutnya. Tapi kami ga lanjut gegara dapat murka itu hihihi

      Hapus
  28. saya baru tau mba Vhoy anak pesantren :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini anak santri bandel Mbaakk. Jgn dicertain ke anaknya ya, ahahahaha

      Hapus
  29. Wahaha nekad sekali sampe dua malam kabur, aku dulu di sekolah biasa sih mbak, tapi gak pernah bolos, aku kan anak rajin hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha!
      Duh, jadi malu sama anak rajin xixixi

      Hapus
  30. kenangan yang sangat berkesan yah Mbak :)
    suka sama ceritanya,goodluck lombanya yah Mbak Vhoy :)

    BalasHapus
  31. terbayang bagaimana deg-degan dan malunya, kalau didudung malah gak jadi pengalaman yang berkesan,hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jgn dibayangin Maaak, tambah isin aku huhuhu

      Hapus
  32. Barakallah Mba...

    hihi. aku mbayangin waktu diadili di pesantren... ditakzir ga mba? :P

    Alhamdulillah perjuangannya membuahkan hasil ^^

    oia, terimakasih sudah ikut GA saya.. good luck!

    BalasHapus
    Balasan
    1. takzirnya ya diomelin di dpn umum itu Mbaak hihihi
      Makacih ya Mbak ^_^

      Hapus
  33. SMA emang masa-masa yang paling indah ya mba.. jadi kangen masa itu.. :D

    BalasHapus
  34. Pengalaman zaman SMA memang susah dilupain ya mba.. apalagi acara kabur dari pondok segala hihi. Tapi demi mengejar sebuah prestasi, halangan apapun ditebas :D. Salut !

    BalasHapus
  35. Pengalaman zaman SMA memang susah dilupain ya mba.. apalagi acara kabur dari pondok segala hihi. Tapi demi mengejar sebuah prestasi, halangan apapun ditebas :D. Salut !

    BalasHapus
  36. Alasannya apa kok tidak diperbolehkan ikut lomba, padahal kalau menang kayak gitu kan bisa membanggakan pesantrennya juga kan...

    BalasHapus
  37. Macam-macam saja kisah dalam perlombaan itu, ya...
    Untuk diingat kembali apalagi

    BalasHapus