Google+ Followers

Senin, 16 Maret 2015

Kreatifitas Sang Penjual Ketan



Musim ulangan tengah semester seperti sekarang, biasanya saya mengajar les pagi. Sebab salah satu anak les saya punya jadwal masuk siang. Kebetulan dia kelas 7 SMP.

Oh ya, profesi saya memang guru les seperti yang telah saya ceritakan di sini.

Seperti Sabtu pagi kemarin. Pukul 06.30, saya sudah duduk manis di rumah Bram, anak les saya. Memang hari itu pagi sekali saya datang karena dia harus masuk pukul 08.45. Hari-hari sebelumnya, kami (tepatnya Bram) mulai belajar agak lebih siang menyesuaikan jadwal UTS-nya yang mulai pukul 11.30.

Di tengah-tengah kami serius membahas materi dan latihan soal untuk UTS hari itu, sayup-sayup ada suara dari sebuah pengeras suara. Makin lama makin dekat, makin keras pula suaranya.

“Gathot, gathot. Tiwul, tiwul. Ketan, ketan. Gathot, tiwul, ketan. Sebungkus harganya seribu.” Demikian bunyi yang keluar dari pengeras suara tadi.

Saya tanya sama Bram suara apa itu. Bram menjawab kalau itu adalah penjual ketan keliling. Di luar, ternyata ayahnya Bram menghentikan sang penjual. Beliau rupanya mau sarapan tiwul. Bukan cuma untuk beliau sendiri. Tapi untuk sekeluarga. Dan tentu saya juga hehehe!

Kok pe-de sekali saya bakal dapat jatah?

Salah satu enaknya jadi guru les privat adalah selalu tersedianya cemilan untuk teman belajar. Namun bukan berarti itu suatu keharusan ya :D. Hanya saja, Alhamdulillah-nya, semua keluarga anak les saya baik hati dan tidak sombong. Jadi urusan cemilan selalu ada.

OK, kembali ke soal penjual ketan tadi. Ketika berhenti lama di depan rumah Bram, suara tadi terus terdengar berulang-ulang. Apa nggak capek ya, pikir saya. Usut punya usut, setelah didengar dengan seksama, itu bukan suara live sang penjual alias hanya rekaman yang diputar dari pemutar musik.

Wah, kreatif juga orang ini, pikir saya.

Biasanya, penjual ketan dan sebangsanya ini adalah perempuan paruh baya dengan bakul yang digendong di punggungnya. Tapi kali ini yang jualan adalah bapak-bapak dan belum terlalu tua.

Dia juga mengendarai sepeda motor yang diberi kotak untuk menaruh dagangan di bagian belakang. Seperti abang penjual sayur kebanyakan. Bedanya hanya jualannya saja. Dia menjajakan penganan tradisional. Plus caranya berpromosi yang tidak biasa.

Bapak ini membuat semacam jingle sederhana untuk mempromosikan dagangannya. Persis seperti promosi roti merk terkenal yang biasa dijajakan keliling itu. Bedanya, bila jingle roti itu ada nadanya, yang ini tidak ada sama sekali. Hanya semacam pemberitahuan penganan apa saja yang dia jual.
Dan inilah penampakan aneka penganan yang tersebut di rekaman promosi tadi. 
Gathot (atas) dan tiwul (bawah)

 
Ketan plus bubuk kedelai
Ada gathot, tiwul, dan ketan. Semua dikemas dengan kemasan berbeda pula dari biasanya. Yang umum, bungkus penganan tradisional ini adalah daun pisang. Tapi kali ini menggunakan plastik mika sebagai pembungkusnya. Sehingga tampilannya jadi lebih menarik. Harganya, seperti tersebut di jingle tadi, hanya seribu rupiah per bungkus. Murah sekali, kan?
Kalau tiwul dan ketan pasti hampir semua orang sudah tahu ya.
Tiwul adalah makanan yang terbuat dari singkong. Dalam kemasan ini sajiannya diberi parutan kelapa. Di kampung-kampung seperti daerah saya, biasanya dipakai sebagai pengganti nasi beras. Rasanya? Top markotop bagi yang suka. Tiwul dipercaya dapat menyembuhkan penyakit maag. Makanya, orang desa kebanyakan sehat karena makan tiwul. Demikian kata mbah-mbah saya dulu.

Ketan juga sudah banyak dikenal di daerah lain. Terbuat dari beras ketan yang dimasak seperti nasi. Disajikan bersama parutan kelapa dan bubuk kedelai yang telah dicampur dengan bubuk gula. Jadi bubuk kedelainya rasanya manis.

Gathot sebenarnya masih saudara jauh dengan tiwul. Kenapa? Karena sama-sama terbuat dari singkong. Hanya proses pembuatannya yang berbeda.

Kalau tiwul, gaplek alias singkong keringnya harus dibuat tepung gaplek dulu baru diproses menjadi tiwul. Nah, untuk gathot, gaplek-nya tidak perlu dibuat tepung. Gaplek tadi direndam dalam air supaya lunak. Baru kemudian dipotong kecil-kecil dan dikukus. Rasanya enak dan mengenyangkan. Taburan kelapa parut yang diberi garam menambah nikmat rasa gathot-nya.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa warnanya hitam? Singkong jadi menghitam selama proses penjemuran karena jamur dan bakteri. Tapi itu semua aman untuk dikonsumsi. Jadi tidak perlu khawatir.

Alhamdulillah, sebungkus ketan plus teh manis sudah cukup membuat saya kenyang. Tapi tidak dengan Bram. Dia masih kuat makan tiwul setelah ketannya ludes. Gathot juga serasa melambai-lambai ingin dimakan. Anak dalam masa pertumbuhan memang makannya banyak yaa :D.

Sebenarnya saya ingin mengambil gambar si bapak penjual ketan plus gerobaknya itu. Tapi berhubung malu sama orang tuanya Bram, kandaslah niatan itu.

Satu pelajaran yang bisa saya ambil dari bapak penjual tadi: apapun jualannya, kreatifitas tetap yang utama. Kreatif dalam promosi, kreatif pula dalam pengemasan. Seperti yang penjual ini lakukan. Dengan membuat kemasan berbeda, penganan sederhana menjadi lebih berkelas. Harganya murah tapi tidak murahan. Pun, promosi yang berbeda membuat jualannya lebih menarik. 

Sedikit tindakan memang dapat menghasilkan sesuatu yang berbeda.


post signature

Jumat, 13 Maret 2015

[Hijabku Karena....] Inspirasi Hijabku

Sebenarnya, saat pertama memakai hijab, tidak ada peristiwa istimewa yang terjadi pada diri saya. Semua mengalir begitu saja. Alhamdulillah, tidak ada hambatan sama sekali. Keluarga juga mendukung. Lingkungan (sekolah tepatnya) apalagi. Tapi ada kenangan tentang orang yang menginspirasi saya untuk berhijab yang ingin saya bagi.

Saya pertama kali berhijab saat masuk Madrasah Aliyah (MA) –setara SMA. Kebetulan sekolah saya khusus untuk putri dan hijab adalah pakaian wajibnya. Namun sebenarnya, ketertarikan saya untuk berhijab sudah muncul sejak masuk SMP. .

Saat SMP, saya belajar di sebuah sekolah swasta berbasis Islam. Meskipun demikian, di jaman saya, jilbab belum menjadi seragam wajib bagi siswinya. Jadi, di antara para siswi ada yang sudah memakai jilbab. Tapi kebanyakan memakai seragam pendek pada umumnya. Alhamdulillah, saat ini almamater saya tersebut sudah menerapkan jilbab untuk seragam siswi-siswinya.

Ketika SMP itulah, saya punya sahabat. Namanya Eka. Orangnya cantik, tinggi, putih, ramah, pintar, dan berjilbab. Lengkap sudah kepribadiannya yang membuat orang suka padanya. Guru-guru pun  menyayanginya. Pun termasuk saya. Saya merasa bersyukur bisa bersahabat dengan dia.

Awal kenalan kami di kelas 1. Walaupun berbeda kelas, namun kami menjadi akrab karena sam-sama aktif di ekskul Pramuka. Kedekatan kami semakin erat ketika di kelas 2 kami berada di kelas yang sama.

Bintang Eka saat di SMP semakin bersinar. Keaktifannya di berbagai kegiatan mengantarkan di menjadi ketua OSIS perempuan pertama di sekolah kami. Sebagai sahabat, tentunya saya bangga sekali. Cantik, pintar dan relijius. Ketua OSIS pula. Layaknya di cerita sinetron, perpaduan sifat, sikap dan pencapaian tadi dengan segera menjadikan Eka seorang idola. Eka menjelma menjadi ikon baru di sekolah.  

Saya secara pribadi juga diam-diam mengagumi Eka. Selain karena kepribadiannya yang menyenangkan, juga karena jilbabnya. Sepanjang yang saya lihat, jilbab tidak membuat Eka terbatasi. Justru dengan jilbab itu dia lebih mudah dikenali. Istilah jaman sekarang lebih eksis. Tentu dalam arti yang positif. Apalagi dia termasuk siswi yang sangat aktif.

Dan gegara melihat Eka dengan segala hal yang melekat di dirinya, saya jadi punya niat. Suatu hari nanti, saya juga harus berjilbab seperti dia.

Jelang kelulusan SMP, saya sesekali belajar mengenakan jilbab saat ada kegiatan les sore menyongsong Ebtanas (sekarang UN) di sekolah. Saat itu, les atau bimbel di luar sekolah belum semarak saat ini. Tentu masih bongkar pasang dan tidak setiap hari saya memakai jilbab.

Keputusan saya melanjutkan sekolah di MA juga demi mewujudkan niat saya untuk berjilbab seperti sahabat saya tersebut. Menurut saya, dengan atmosfer yang sama, tentu konsistensi berjilbab terus terjaga.

Ternyata, Eka bukan hanya role model buat saya. Sahabat saya yang lain, Muna, juga menjadikannya inspirasi untuk berjilbab. Alhamdulillah, dari MA hingga sekarang kami berdua tetap memakainya.

Semoga kami terus istiqomah mengenakan hijab ini, aamiin...
 ***********************************************

Hijab Syar'i Story Giveaway


post signature

Sabtu, 07 Maret 2015

Job Review dan Newbie


Menjadi seorang newbie di dunia blogging membuat saya belajar banyak hal. Bukan sekedar ilmu menulis, tapi juga tetek bengek terkait dunia blogging. Awal ketertarikan saya di dunia perbloggingan ini adalah ketika sahabat saya bercerita betapa menyenangkannya menjadi seorang blogger. Bukan hanya bisa menambah ilmu blogging dan pengetahuan lainnya, tapi juga bisa menambah income alias penghasilan.

Demi mendengar kata penghasilan, kepala saya langsung berdiri tegak. Penghasilan dari ngeblog? Ini yang saya cari *keluar taring vampir :D

Sudah lama saya berangan-angan memiliki pekerjaan yang bisa dikerjakan di mana saja, terutama di rumah. Ini adalah cita-cita sejak saya bisa berfikir tentang dunia kerja dan pendapatan. Kebetulan saya tipe orang yang lebih nyaman bekerja tidak dalam ikatan waktu (baca: ngantor).

Pola pikir saya ini mungkin dipengaruhi oleh lingkungan keluarga saya yang rata-rata bekerja di lapangan. Tidak terikat jam kerja. Namun bisa menghidupi keluarga. Meskipun demikian, rasa tanggung jawab penuh terhadap pekerjaan harus menjadi yang utama

Kembali ke soal penghasilan dari blogging. Untuk mendapat penghasilan dari ngeblog, kata sahabat saya, salah satunya bila kita mendapat job review. Apa itu?

Job artinya pekerjaan. Review artinya ulasan atau tinjauan. So, secara bebas job review bisa diartikan kita menulis atau membuat ulasan tentang suatu produk tertentu dan kita dibayar untuk itu.

Produk apa saja yang bisa kita tulis? Banyak sekali. Mulai dari kebutuhan keluarga –seperti baju, sabun, kosmetik, perlengkapan rumah (furnitur, alat masak, elektronik, dsb), perlengkapan bayi, sampai kebutuhan tersier bisa kita tulis. Dari barang yang murah meriah hingga barang mewah bisa kita ulas. Intinya, semua yang memiliki nilai jual bisa kita review.

Apalagi di jaman yang serba internet ini, kebanyakan orang suka mencari tahu detail barang yang ingin dibeli sebelum benar-benar membeli. Dari sinilah profesi job review berkembang. Vendor dan produsen memilih (baca: memberdayakan) para blogger untuk memperkenalkan produk mereka. Blogger dipilih tentu karena alasan tertentu. Konon, seperti yang pernah saya baca, tulisan blogger lebih original dan lebih personal. Sehingga banyak calon konsumen yang lebih percaya ulasan mereka. Bila sudah percaya, dipastikan mereka beli produk yang telah di-review tersebut.

Tapi tentu saja, sebagai anak baru di dunia blogging, saya cukup tahu diri. Saya belum memiliki kemampuan apa-apa dibanding teman-teman yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan, eh, per-blogging-an :D. Intinya harus banyak belajar.

Jadi apa yang bakal saya lakukan supaya dapat memperoleh job review tadi?  
Yang pertama adalah menulis dan terus menulis. Hingga saat ini, postingan di blog saya masih bisa dihitung jari tangan dan kaki #ekh :P. Dengan menulis apa saja, sedikit demi sedikit kemampuan saya in shaa Allah bakal terasah *seperti pisau tsaaahh :D.

Seperti menulis pengalaman saya memakai benda ini. Yang saya tulis ini memang bukan sebuah review. Hanya sharing pengalaman saya saja.

Yang kedua, membaca hasil tulisan teman-teman blogger lainnya. Terutama tentang review suatu produk. Dari situ saya bisa belajar banyak hal. Apa saja yang bisa dan boleh ditulis. Apa saja yang haram ditulis di sebuah review.

Bisa juga nanti saya mencoba me-review suatu produk yang sudah pernah saya pakai. Tentunya sukarela alias tidak ada honor. Begitu tips yang saya baca dari blog seorang teman.

Mendapat job review sepertinya impian setiap blogger ya. Karena memang hal ini salah satu bukti bahwa tulisannya laik jual dan layak baca.

Nah, untuk saat ini, mendapat penghasilan dari ngeblog adalah ikhtiar jangka panjang saya, terutama setelah menikah nanti (semoga disegerakan ya Allah, aamiin ^_^). Alasannya sederhana saja, saya ingin bekerja tanpa harus meninggalkan rumah dalam waktu yang lama. 

Mengapa jangka panjang? Karena seperti yang saya bilang, saya masih hijau di medan keren ini :D. Meskipun jangka panjang, tapi semua harus dimulai dari sekarang kan? Siapa tahu, salah satu jalan rezeki saya ada di sini ^_^. Dan setelah ini ada yang melirik blog hijau saya untuk kemudian meminta saya me-review produknya *ngarep :P

Yang penting sekarang, menulis, menulis, dan menulis. Selebihnya, biarlah Allah mengatur semuanya.


********************
 "Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog "Blogger dan Job Review" oleh Petrus Andre yang didukung oleh Ajeng Angelina dan Elisa Fariesta