Google+ Followers

Selasa, 29 Desember 2015

Kabar Duka #1



Minggu, 22 November 2015
Pukul 17.30

Saya dalam perjalanan pulang bersama keluarga dari takziyah ke salah satu kerabat. Hari sudah mulai gelap, menjelang maghrib. Ada sebuah panggilan masuk di HP saya. Nomor baru. Siapa ya?

Ternyata dari Nova, teman saya semasa Aliyah yang tinggal di Prigen. Dengan suara kacau, Nova mengabari saya kalau sahabat kami, Merry, meninggal dunia tadi pagi.

Deg. Saya shocked. Seketika itu juga badan saya melorot dari jok mobil yang saya duduki. Saya masih berusaha meyakinkan bahwa kabar itu tidak benar. Tapi Nova kembali mengulangi ucapannya.

Sungguh kabar yang sangat tak diharapkan. Rasanya tak dapat dipercaya. Sahabat saya yang super baik itu sudah pergi mendahului kami.

Bagaimana ceritanya? Dari mana Nova tahu?

Kemudian Nova cerita, siang itu dia telpon ke nomer HP Merry. Tapi yang mengangkat suaminya. Ketika ditanya kabar Merry, si suami bilang kalau Merry sampun kapundut. Antara bingung dan kurang paham, Nova masih bertanya. Suami Merry sampai bilang sampun kapundut hingga tiga kali. Hingga akhirnya dia bilang Merry sudah meninggal tadi pagi jam 10.  
 
Almh. Merry semasa hidup bersama salah satu putrinya
Sampun kapundut memang istilah halus bahasa Jawa untuk menggambarkan orang yang meninggal dunia. Artinya sudah diambil; diambil oleh Yang Maha Kuasa, Pemilik segala sesuatu yang bernyawa.

Aaah, saya tak bisa membayangkan bagaimana warna perasaan Nova saat mengetahui kabar itu. Tak percaya dan kaget seperti saya pasti. Tapi mendengar dari suami Merry langsung tentu jauh lebih mengagetkan.

Dari suami Merry pula, diketahui Merry meninggal karena leukimia. Ah, bagaimana bisa Merry mengidap penyakit itu? Sejak kapan? Kenapa tidak cerita? Banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala. Tapi masing-masing dari kami tak punya jawabannya.

Nova juga bilang dia tidak bisa mengabari teman-teman via grup WA karena sinyal internet di sana sedang error. Namun dia berusaha telpon beberapa dari kami yang dekat dengan Merry, termasuk saya. Beberapa saat lamanya kami bicara. Selama itu juga pikiran saya blank. Yang ada di pikiran saat itu juga saya harus ke Pati, tempat tinggal Merry.  

Begitu telpon ditutup saya langsung buka list kontak di HP. Retno orang pertama yang saya hubungi. Hanya saja, berkali-kali ditelpon tak diangkat juga. Ternyata dia sedang di jalan.

Ketika beberapa saat kemudian Retno menjawab telpon saya, sayangnya saya sudah tidak sanggup bilang apa-apa. Saya hanya bisa menangis. Sedang di seberang sana, Retno berkali-kali tanya kenapa. Akhirnya saya kirim sms mengabarkan kepergian Merry. Sesampai di rumah, saya kembali telpon Retno, cerita sekilas kabar duka itu.

Beberapa saat selanjutnya, kabar itu  mulai menyebar grup WA. Percakapan ramai sekali. Semua menyatakan ketidakpercayaan akan berita duka itu. Beranda FB pun tak kalah ramai. Beberapa dari kami membuat status ucapan duka dan mengunggah foto Merry saat di RS dan juga saat kami masih sekolah dulu.  

Menjelang isya’, Retno mampir rumah saya. Saya bilang, saya mau ajak dia takziyah kesana. Kalau bisa malam itu juga berangkat. Tapi kemudian Retno menyadarkan saya dengan pertanyaan: mau naik apa, sudah tahu rumahnya, dll dsb.

Retno benar. Rasa kalut dan duka membuat pikiran saya tidak jernih. Kami belum pernah ke Pati. Pun keadaan seperti ini kurang memungkinkan bagi kami untuk berangkat.

Akhirnya, saya minta tolong di grup untuk cari info akses ke Pati. Semua yang ada di grup sibuk tanya sana sini lalu berbagi info di grup. Saya juga menghubungi beberapa saudara dan teman yang bisa memberi info travel ke Pati.

Sayang, Pati tidak dilalui kereta. Kalaupun bisa naik kereta harus turun di Semarang, baru lanjut naik bis sekitar 2-3 jam ke Pati. Sedang saya golongan pemabuk berat kalau naik bis. Bis dari Ponorogo pun tidak bisa langsung ke Pati. Harus ke Solo dulu. Lalu  oper bis menuju Pati. Begitu info yang saya dapat. Naik travel pun sama: ke Solo dulu, baru ambil travel jurusan Pati.

Hingga malam, belum ada kejelasan info tentang kendaraan menuju Pati. Obrolan grup terhenti karena memang sudah hari sudah sangat larut.

Tapi malam itu saya tidak dapat tidur. Saya yakin sahabat-sahabat saya juga sama. Hari itu kami diliputi duka yang sangat dalam. Sahabat terbaik itu telah kembali ke haribaan Illahi. Rasanya sesak sekali di dada. Tapi apa daya. Allah-lah Maha Penentu segala. Akhirnya, hanya doa tulus yang bisa terucap; semoga Merry khusnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah, aamiin.

Selamat jalan, Merry. Doa kami selalu mengalir untukmu :(


-bersambung- 

post signature

17 komentar:

  1. turut berduka cita ya mbak...smoga yg ditinggalkan diberi kesabaran

    BalasHapus
  2. Turut berduka mbak.. Semoga keluarga yang ditinggalkan ikhlas, diberi ketabahan dan kesabaran. Dulu anaknya bulikku juga gini mbak...shalihah banget. Pokoknya cantik, pinter, taat beribadah...rajin ngaji, sholat...tapi nggak berumur panjang..

    BalasHapus
  3. Innalillahi wainna ilaihi rajiun

    BalasHapus
  4. Innalillahi wa innailaihirojiun. Allahumma firlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha.

    BalasHapus
  5. Innalillahi wa innailaihi rojiun...moga khusnul khotimah sahabatmu, Vhoy

    BalasHapus
  6. iinalillahi wainailaihi rojiun..turut berduka cita mbaaa

    BalasHapus
  7. Innalillahi wa innailaihi roji'un..
    Turut berduka maksist.. :(

    BalasHapus
  8. Innalillahiwainnailaihirojiun...
    InsyaAllah merry sudah bahagia disana

    BalasHapus
  9. Turut berduka cita mba, moga khusnil khotimah, keluarga yang ditinggalkan tabah :(

    BalasHapus
  10. Turut berduka cita mba..liat fotonya aja dia memang kelihatan org baek..semoga amal ibadah nya diterima di sisi Allah

    BalasHapus
  11. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun.
    Tuut berduka mba...

    BalasHapus
  12. Turut berduka mbak...semoga khusnul khotimah #alfatihah

    BalasHapus
  13. Nderek belasungkawa. Pasti sedih sekali. Sayapun mengalami bbrp waktu lalu, ketika sahabat kami berpulang akibat kanker kolon.

    BalasHapus
  14. inna lilahi wa inna ilaihi rajiuun.. turut berduka cita ya mbak

    BalasHapus