Google+ Followers

Kamis, 15 Oktober 2015

The Freedom Writers: Inspirasi untuk Para Pendidik


Dari sekian banyak film yang saya simpan di laptop, ada salah satu judul yang tiga tahun terakhir masih setia nongkrong di folder movies: The Freedom Writers. Dibintangi oleh Hilary Swank, ini adalah sebuah film inspiratif yang bercerita tentang perjuangan seorang guru dalam mengajar dan mendidik anak-anak ‘spesial’ yang akhirnya benar-benar menjadi orang spesial.
 
Hilary Swank; pemeran Erin Gruwell
Adalah seorang Erin Gruwell, perempuan cantik berpendidikan tinggi yang melamar bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di salah satu sekolah di sebuah kawasan bernama Long Beach, di Amerika Serikat.  Dia ditempatkan di kelas 203. Sebuah kelas yang paling tidak diminati oleh semua guru karena dianggap kelas paling bermasalah di sekolah.


Awal-awal Miss Gruwell masuk kelas, bukanlah perjuangan yang mudah. Anak-anak yang berasal dari berbagai latar belakang ras yang berbeda, tidak menerima kehadirannya.  Sang guru yang berkulit putih dianggap musuh oleh mereka.

Sebenarnya bukan hanya gurunya yang dimusuhi. Tapi para siswa bermusuhan satu sama lain. Ya, kelas ini memang multi ras: kulit putih (hanya sebagian kecil), Asia, Latin, dan Afro-Amerika. Hampir semua siswa pernah mengalami kekerasan terutama perang antargeng dan ras. Itulah sebabnya mereka selalu curiga satu sama lain.

Berbagai pendekatan dilakukan Miss Gruwell agar anak-anak mau menerimanya. Tidak ada yang berhasil. Hingga suatu saat, dia membuat sebuah permainan yang disebut line game. Dia membuat pertanyaan dan meminta siswa maju mendekati garis yang telah dibuatnya apabila pertanyaan tersebut sesuai dengan mereka.   

Dimulai dari pertanyaan simpel seperti punya album musisi A? dll, hingga pertanyaan yang bikin mereka menundukkan kepala: tentang kehilangan keluarga, kerabat, dan teman karena kekerasan dan pembunuhan.

Setelah itu, dia memberi masing-masing siswa sebuah jurnal untuk ditulis. Mereka boleh menulis apapun yang mereka alami dan rasakan serta meninggalkannya di loker bagi yang ingin jurnalnya dibaca oleh Miss Gruwell. Tak disangka semua siswa meninggalkan jurnalnya. Dari situ, Miss Gruwell tahu permasalahan yang dialami setiap anak.

Dari situ pula, Miss Gruwell menemukan metode unik untuk mengajar anak didiknya. Meski hal tersebut ditentang oleh rekan guru dan kepala departemennya. Karena tidak mendapat dukungan tersebut, dia rela bekerja paruh waktu jualan bra di sebuah department store dan hotel hanya demi mengumpulkan dana bagi anak-anak untuk mendapatkan buku.

Imbasnya, suaminya meninggalkannya gegara sang suami merasa dia terlalu berlebihan mengurus anak-anak bermasalah tersebut.

Beruntung, Miss Gruwell bukanlah orang yang gampang menyerah. Karena perlahan, anak-anak bisa menemukan potensinya. Bahkan mereka bisa melewati semester demi semester dengan sangat baik. Ayah Miss Gruwell yang semula juga menentang keputusannya menjadi guru, berbalik mendukung apa yang dilakukan putrinya.

Miss Gruwell akhirnya bisa membuktikan, anak-anak yang dianggap bermasalah, ternyata bisa diajar dan dididik serta lulus dengan baik. Bahkan sebagian dari mereka melanjutkan kuliah. Di akhir film diceritakan, jurnal yang ditulis anak-anak, atas inisiatif Miss Gruwell, dibukukan dan diberi judul The Freedom Writers.

Di ujung film, barulah saya tahu bahwa film produksi tahun 2007 ini dibuat berdasarkan kisah nyata seorang guru bernama Erin Gruwell di era 90-an. Guru inspiratif ini dikenal dengan metodenya yang unik: the freedom writers method.  Di tahun 1999, Miss Gruwell memprakarsai publikasi tulisan siswanya dengan judul The Freedom Writers Diary yang menjadi rujukan pembuatan film tersebut.
 
Erin Gruwell; guru inspiratif (baju pink berkalung mutiara)
Bagi saya, film The Freedom Writers ini inspiatif sekali terutama buat para pendidik. Apa yang diperbuat oleh Miss Gruwell adalah sesuatu yang luar biasa. Kegigihannya dan pengorbanannya untuk para siswanya bisa dibilang seribu satu yang melakukannya.

Meski hanya freelance teacher, saya mendapat pelajaran berharga dari film ini. Satu poin utama yang bisa saya ambil adalah tentang mengajar dan mendidik dengan hati. Miss Gruwell melakukan apapun untuk siswanya dengan sepenuh hati. Mulai dari kerja paruh waktu yang dilakukannya, juga hal-hal lain yang menyentuh siswanya.

Benarlah kiranya penggalan lirik lagu yang dinyanyikan oleh Ari Lasso:

Sentuhlah dia tepat di hatinya
Dia kan jadi milikmu selamanya

Saya kira, interpretasi lirik ini bukan hanya untuk pasangan atau lawan jenis saja. Tapi juga berlaku untuk hal lain; termasuk pendekatan kepada siswa. Apa yang kita sentuh dengan hati, dan pas di hati, maka hasilnya sesuai keinginan hati.  

Dan Miss Gruwell berhasil membuktikan hal tersebut. Kelas paling bermasalah ternyata bisa diatasi bahkan di kemudian hari menjadi teladan bagi siswa lainnya. Tak lain dan tak bukan karena para siswa disentuh hatinya.

Ada satu scene di film ini yang sukses bikin air mata saya meleleh. Yaitu saat salah seorang siswa membacakan jurnal miliknya. Pada kalimat terakhir, dia menyebut kelasnya sebagai rumah. Dan semua itu berkat guru hebat mereka; Miss Erin Gruwell. Orang pertama yang membuat mereka percaya bahwa mereka ada dan sama seperti lainnya. 
Scene yang bikin saya nangis hicks :(

Buat Sahabat pendidik, yuuk nonton film ini. Siapa tahu terinspirasi seperti saya ^_^.



post signature

48 komentar:

  1. Blm pernah liat film ini, tp cara ini bs dtrpkan drmh ya, mndidik anak dg hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk nonton Mbak.
      Yups, bener. Bisa buat inspirasi mendidik anak juga ;)

      Hapus
  2. pernah nonton film ini mak, cakep bgd memang, bikin eikeh terharu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin pengen nonton lagi ya Mak Inda ^_^

      Hapus
  3. ini,kayak guru BK banget hahahaha....inspiratif,kayaknya dulu pernah lihat waktu masih si malang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, iya. Gurunya pake pendekatan psikologis inih :D

      Hapus
  4. Cocok untuk ditonton para guru y mb..jadi keinget film montir2 cantik ngedenger lirik lagu ari lasso hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak.

      Wahahaha, sy malah ga inget blass sama sinetron itu pas nulis liriknya :P

      Hapus
    2. dan aku baru sadar kalo itu hillary swank

      Hapus
  5. Hmmm saya pernah nonton film ini mbak... ah pokoknya film y ada unsur pendidikannya saya suka. Entah 3 idiot, laskar pelangi, Akeelah and the bee... suka deeeeh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama Mbak. Film yg Mbak sebutin aku juga suka semua *tosss

      Hapus
  6. Baru tau tentang film ini dan sepertiinya menarik ya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo nonton Mak, dijamin mewek hehehe

      Hapus
  7. Sama mbak.. saya juga mewek pas adegan muridnya bacain jurnal T^T... inspiratif bgt ini film...

    BalasHapus
  8. Belum pernah nonton... Aku suka film beginian mbak...tanpa senjata dan kekerasan...jalan cerita juga bagus. Kisah nyata lagi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk Mbak Sulis, nonton film ini :D

      Hapus
  9. guru yg keren dan inspiratif. Semoga saja saat ini, masih banyak guru2 yg seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, semoga begitu. Smg sy juga bisa niru hihihi

      Hapus
  10. aku udah nonton ini....nangis...hikz...
    dedikasinya buat muridnya tinggi :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups Mak, sy juga mewek nontonnya :(

      Hapus
  11. aq blom nonton euy, boleh minta linknya mba, aq search di youtube tp gak nemu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, sayangnya sy ga tau link youtube-nya Mbak :(. Mungkin bs dicoba searching lagi ya. Maaf ga bisa bantu :((

      Hapus
  12. Bagus banget, belum pernah nonton tapi kepengen banget nonton, baca reviewnya aja pengen nangis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuukk nonton Mbak, biar mewek beneran hehehe

      Hapus
  13. Pernah nonton.. Bagus memang dan memang bikin meleleh sekali lihatnya..

    BalasHapus
  14. Sudah pernah nonton. Dan saya akui untuk bisa jadi guru yang seperti itu tak mudah. Butuh perjuangan dan tentunya dukungan dari sekitar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Mbak. Semoga kita bisa niru jejak Miss Gruwell ya ^_^

      Hapus
  15. Balasan
    1. Salam kenal juga Mbak. Trima kasih sdh mampir ^_^

      Hapus
  16. Kisah nyata yang difilmkan itu umumnya inspiratif, punya pengaruh yang besar bagi penontonnya.. makanya pas kita nonton tuh bisa nyess banget ya Maksist?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaps, Maksist. Selalu nyentuh kalo kisah nyata ^_^

      Hapus
  17. suka bangeet film ini, very inspiring, ngga bosen nontonnya

    BalasHapus
  18. Aku juga suka film ini, tapi suaminya emang nganggur sih ya... jadi dia angkat kaki akhirnya

    BalasHapus
  19. Pasti bagus banget filmnya. Baru tau ada film ini. Tiba-tiba berasa kudet, padahal aku suka banget film semacam ini. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuukk segera hunting filmnya mak, biar ga penasaran hihihi

      Hapus
  20. belum nonton filmnya tapi membaca reviewnya jadi pengen nonton..

    salam kenal mbak :)
    udah saya follow blognya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuukk nonton Mbak :D.

      Salam kenal jg ya Mbak ^_^

      Hapus
  21. kayanya aku perlu juga nonton ini, bekal untuk membimbing petani, makasih ya mbak atas partisipasinya

    BalasHapus
  22. Cakep filmnya. Mengajar dari hati sampai ke hati.
    Bagus buat ditonton guru yang suka main tonjok, :)

    salam,
    http://alrisblog.wordpress.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupz, bener. Makasih sdh mampir.
      Salam ^_^

      Hapus
  23. Segala sesuatu yang dilakukan dengan hati akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa ya mbak

    BalasHapus
  24. dari judulnya tak kira cerita tentang penulis...hehe
    merinding pas baca di bagian siswa ygmembacakan journalnya *film inspiratif bgt* (y)

    BalasHapus