Assalamualaikum.
Teman-teman,
punya anak, adik atau keponakan yang gemar nonton kartun? Saya yakin hampir semua
anak kecil suka nonton genre film yang satu ini.
Stasiun
tivi kita sepertinya memang lagi diserang demam kartun luar: Malaysia, India,
dan Russia. Dan bisa dibilang, semua stasiun tivi selalu latah oleh acara yang
sedang in.
Masih
ingat acara YKS di Trans TV yang dihentikan penayangannya oleh KPI? Saat
acara ini booming, hampir semua stasiun TV meniru dan membuat acara
serupa dengan kemasan yang sedikit berbeda. Pun sekarang, musimnya adalah
kompetisi dan acara dangdut. Di mana-mana, dangdut ada. Genre musik yang satu
ini sedang berada di puncak popularitas.
![]() |
| Gambar dari sini |
Kembali
ke soal film kartun.
Ada
satu film yang kalau saya amati melekat sekali di ingatan anak-anak. Apalagi
kalau bukan Upin Ipin. Duo gundul lucu ini tayangnya sudah seperti minum
obat: 3 kali sehari, pagi, siang, dan sore. Jadi tidak heran, anak-anak hapal
di luar kepala setiap adegan yang ada di film animasi ini.
Lepas
dari isu yang pernah merebak tentang film kartun ini, Upin Ipin bisa dibilang
film yang lumayan bagus. Setidaknya menurut saya (sttt saya sering nemenin ponakan
saya nonton XD)
Bukan
hanya dari segi animasinya *sok tahu animasi-ditimpuk panci*. Lebih dari itu
pesan moral dan nilai edukasinya patut diacungi jempol. Sebut saja episode pengenalan
pasukan pemadam kebakaran. Anak-anak diedukasi tentang bagaimana cara menangani
peristiwa kebakaran. Termasuk pula dikenalkan tentang profesi penuh resiko ini.
Bahwa bukan hanya laki-laki saja yang boleh jadi pasukan damkar, perempuan
berjilbab pun bisa bergabung.
Atau
episode Upin Ipin yang dalam mimpi mereka tiba-tiba berubah menjadi kecil
sekali dan lari tunggang langgang dikejar kecoa gara-gara tidak menjaga
kebersihan kamarnya. Dari episode ini, anak-anak diajari tentang pentingnya
menjaga kebersihan.
Dan
masih banyak lagi pesan moral yang disampaikan dalam kartun Upin Ipin.
Tapi
ternyata, pengaruh Upin Ipin terhadap anak-anak bukan hanya soal pengetahuan saja.
Melainkan sudah merambah ke ranah bahasa *berat euy bahasanya :D.
Bagaimana
tidak. Karena tayang tiga kali sehari dan setiap episode diputar berulang-ulang,
anak-anak begitu hapal adegan film ini luar kepala. Paling tidak itu yang saya
lihat dari keponakan dan murid-murid saya.
Keponakan
saya yang masih TK ini misalnya. Saking hapalnya, setiap nonton si kembar plontos dkk ini,
mulutnya komat kamit seperti mbah dukun menirukan dialog yang ada di tivi. Selain
itu, gaya bicaranya kemudian meniru para tokoh yang ada di film tersebut.
Tak
nak
Takde pun
Iye
ke
Takde je
Itu
adalah ungkapan yang sering ditiru oleh keponakan saya. Pernah suatu hari,
saat pulang sekolah dia bilang ke ibunya: Buuu, lapaar. Gayanya persis
seperti si Upin. Atau lain waktu, saat disuruh ibunya mengambilkan sesuatu tapi
dia tak segera berangkat. Malah dia bilang: “Sabarlah”. Lagi-lagi logat
Melayu-nya keluar *sighed.
Intinya,
bila ditanya sesuatu, jawabnya sering pakai logat Malaysia. Padahal, kami di
rumah selalu menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi utama.
Pun
demikian dengan murid-murid saya. Bocah-bocah SD itu, kala saya tanya, jawaban yang sering keluar selalu ala Upin Ipin. Benar-benar sudah merasuk ke tulang-belulang
anak-anak ini rupanya virus Upin Ipin.
Sebenarnya
bukan untuk mengeluhkan fenomena ini ya. Hanya saja tiba-tiba mata jadi sangat
terbuka. Bahwa lagi-lagi teknologi sedemikan berpengaruh terhadap perkembangan
seorang anak. Mudah-mudahan saja, gaya ngikut ala ala Upin and the
gang ini hanya sekedarnya saja. Tidak berlanjut berubah identitas menjadi
lebih Malaysian daripada Indonesian.
Kalau
boleh berharap pula, semoga bukan hanya serial Adit dan Jarwo saja yang
bisa menetralisir gempuran animasi dari luar. Supaya anak-anak negeri ini bisa
dapat tontonan asli hasil karya bangsa sendiri, juga bisa lebih mencintai
bahasa negeri sendiri. Karena saya yakin, sebenarnya animator-animator Indonesia
banyak yang mampu menghasilkan karya sekelas Upin Ipin, atau malah bisa
lebih.
Semoga saja.



