Selasa, 19 Mei 2015

Kartun Malaysia dan Bahasa Anak-anak


Assalamualaikum.

Teman-teman, punya anak, adik atau keponakan yang gemar nonton kartun? Saya yakin hampir semua anak kecil suka nonton genre film yang satu ini.

Stasiun tivi kita sepertinya memang lagi diserang demam kartun luar: Malaysia, India, dan Russia. Dan bisa dibilang, semua stasiun tivi selalu latah oleh acara yang sedang in.

Masih ingat acara YKS di Trans TV yang dihentikan penayangannya oleh KPI? Saat acara ini booming, hampir semua stasiun TV meniru dan membuat acara serupa dengan kemasan yang sedikit berbeda. Pun sekarang, musimnya adalah kompetisi dan acara dangdut. Di mana-mana, dangdut ada. Genre musik yang satu ini sedang berada di puncak popularitas.


Gambar dari sini

Kembali ke soal film kartun.

Ada satu film yang kalau saya amati melekat sekali di ingatan anak-anak. Apalagi kalau bukan Upin Ipin. Duo gundul lucu ini tayangnya sudah seperti minum obat: 3 kali sehari, pagi, siang, dan sore. Jadi tidak heran, anak-anak hapal di luar kepala setiap adegan yang ada di film animasi ini.

Lepas dari isu yang pernah merebak tentang film kartun ini, Upin Ipin bisa dibilang film yang lumayan bagus. Setidaknya menurut saya (sttt saya sering nemenin ponakan saya nonton XD)

Bukan hanya dari segi animasinya *sok tahu animasi-ditimpuk panci*. Lebih dari itu pesan moral dan nilai edukasinya patut diacungi jempol. Sebut saja episode pengenalan pasukan pemadam kebakaran. Anak-anak diedukasi tentang bagaimana cara menangani peristiwa kebakaran. Termasuk pula dikenalkan tentang profesi penuh resiko ini. Bahwa bukan hanya laki-laki saja yang boleh jadi pasukan damkar, perempuan berjilbab pun bisa bergabung.

Atau episode Upin Ipin yang dalam mimpi mereka tiba-tiba berubah menjadi kecil sekali dan lari tunggang langgang dikejar kecoa gara-gara tidak menjaga kebersihan kamarnya. Dari episode ini, anak-anak diajari tentang pentingnya menjaga kebersihan.

Dan masih banyak lagi pesan moral yang disampaikan dalam kartun Upin Ipin.

Tapi ternyata, pengaruh Upin Ipin terhadap anak-anak bukan hanya soal pengetahuan saja. Melainkan sudah merambah ke ranah bahasa *berat euy bahasanya :D.

Bagaimana tidak. Karena tayang tiga kali sehari dan setiap episode diputar berulang-ulang, anak-anak begitu hapal adegan film ini luar kepala. Paling tidak itu yang saya lihat dari keponakan dan murid-murid saya.

Keponakan saya yang masih TK ini misalnya. Saking hapalnya, setiap nonton si kembar plontos dkk ini, mulutnya komat kamit seperti mbah dukun menirukan dialog yang ada di tivi. Selain itu, gaya bicaranya kemudian meniru para tokoh yang ada di film tersebut.

Tak nak
Takde pun
Iye ke
Takde je

Itu adalah ungkapan yang sering ditiru oleh keponakan saya. Pernah suatu hari, saat pulang sekolah dia bilang ke ibunya: Buuu, lapaar. Gayanya persis seperti si Upin. Atau lain waktu, saat disuruh ibunya mengambilkan sesuatu tapi dia tak segera berangkat. Malah dia bilang: “Sabarlah”. Lagi-lagi logat Melayu-nya keluar *sighed.

Intinya, bila ditanya sesuatu, jawabnya sering pakai logat Malaysia. Padahal, kami di rumah selalu menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi utama.

Pun demikian dengan murid-murid saya. Bocah-bocah SD itu, kala saya tanya, jawaban yang sering keluar selalu ala Upin Ipin. Benar-benar sudah merasuk ke tulang-belulang anak-anak ini rupanya virus Upin Ipin.

Sebenarnya bukan untuk mengeluhkan fenomena ini ya. Hanya saja tiba-tiba mata jadi sangat terbuka. Bahwa lagi-lagi teknologi sedemikan berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak. Mudah-mudahan saja, gaya ngikut ala ala Upin and the gang ini hanya sekedarnya saja. Tidak berlanjut berubah identitas menjadi lebih Malaysian daripada Indonesian.

Kalau boleh berharap pula, semoga bukan hanya serial Adit dan Jarwo saja yang bisa menetralisir gempuran animasi dari luar. Supaya anak-anak negeri ini bisa dapat tontonan asli hasil karya bangsa sendiri, juga bisa lebih mencintai bahasa negeri sendiri. Karena saya yakin, sebenarnya animator-animator Indonesia banyak yang mampu menghasilkan karya sekelas Upin Ipin, atau malah bisa lebih. 

Semoga saja.


post signature

Senin, 11 Mei 2015

[Kuliner Ponorogo #1] Sego Pecel Godhong Jati


Ponorogo, kota kecil perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa tengah ini, tidak hanya terkenal akan reyog-nya yang sudah mendunia. Potensi kulinernya juga sayang untuk dilewatkan. Memenuhi janji saya setelah saya menang giveaway bakcpackology.me., ini tulisan pertama saya.  

Bagi masyarakat Ponorogo, sarapan identik dengan nasi pecel. Meski sekarang di Ponorogo banyak sekali menu sarapan lain, seperti bubur ayam, soto, dll, nasi pecel tetap menjadi primadona. Pecel Ponorogo –terutama sambal kacangnya- berbeda dari tempat lain. Rasanya beda. Khas banget. Orang Ponorogo yang pernah atau sedang merantau ke kota lain pasti tahu hal ini.

Meski pecel Madiun lebih populer di kota-kota lain, pecel Ponorogo selalu medapat tempat tersendiri bagi penggemarnya. Tak terkecuali teman-teman saya yang pernah sekolah atau tinggal di sini. Bila mereka berkunjung ke Ponorogo, tujuan kuliner pertama adalah pecelnya.  

Selain sambal, yang membedakan adalah penampilannya. Pecel Ponorogo, terutama yang saya ceritakan ini, disajikan dengan menggunakan daun jati. Aroma khas daun jati akan semakin membuat nasi pecel yang dimakan lebih ‘nendang’.

Di dekat rumah saya, ada warung nasi pecel yang menggunakan daun jati untuk membungkusnya. Memang, kadang bila daun jatinya habis, bungkusnya harus diganti kertas nasi yang dialasi daun pisang atau daun jati kecil. Tapi, bila stok daun jatinya ada, Anda akan beruntung menikmati sego pecel godhong jati khas Ponorogo.

Bila makan di tempat, pecel disajikan dengan piring seperti biasa. Tapi, kita bisa minta disajikan dengan daun jati. Orang jawa bilang dipincuk. Daun dibentuk menyerupai piring kemudian dikaitkan dengan biting; potongan lidi yang tajam di ujungnya seperti tusuk sate.

Sego pecel godhong jati pincuk (Dok. pribadi)

Cukup dengan uang Rp. 4.000,- s/d Rp. 5.000,-, kita sudah bisa menikmati sego pecel godhong jati. Yang mau merasakan nasi pecel mantap ini, bisa datang ke Desa Tajug, 200 m timur Taman Wisata Ngembak. 

Di sini, ada dua warung yang terkenal dengan nasi pecelnya yang menggoda selera. Yang satu warung pecel Mbok Mesinem, berada di pinggir jalan raya penghubung Kecamatan Pulung. Satu lagi warung pecel pedes Mbah Temi, masuk ke jalan desa. Kedua warung ini sama-sama menyajikan sambal pedas. Para penggemar selera pedas tidak boleh melewatkan menu sehat yang satu ini.

Yang membedakan adalah pilihan lauknya. Di warung Mbok Mesinem, Anda bisa memillih tempe, rempeyek kacang atau teri untuk lauknya plus taburan remahan gorengan yang biasa disebut gogrogan. Sementara di warung Mbah Temi, ada pilihan tempe yang renyah banget dan klothok atau ikan asin.

Rasanya? Jangan tanya lagi. Perpaduan antara sayur dan sambal pedas plus lauknya enak dan mantap. Ditambah aroma khas daun jati yang semriwing, membuat selera makan semakin bertambah. Sekali merasakan sego pecel godhong jati ini, dijamin  ingin makan lagi :D. 

Makan nasi pecel paling pas ditemani secangkir kopi. Jadi, mau sarapan pecel pagi ini? Silakan datang ke warung sego pecel godhong jati ^_^.


post signature

Jumat, 08 Mei 2015

Bekerja Dari Rumah? Tak Masalah


Masih melajang bukan berarti saya tidak memikirkan hal-hal yang ingin saya lakukan setelah menikah nanti. Ada beberapa hal yang telah masuk list agenda saya. Salah satunya terkait dengan pekerjaan. Cita-cita saya, seperti di tulisan ini, adalah ingin bekerja tanpa harus meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang relatif lama. Dan saya pikir, untuk mewujudkan cita-cita itu, sebaiknya saya bekerja dari rumah saja.

Kenapa saya memilih bekerja dari rumah?

Setidaknya ada tiga hal yang membuat saya mantap bekerja dari rumah. Saya lahir dan dibesarkan oleh seorang full time mother. Sementara ayah saya bekerja di luar rumah. Meskipun demikian, ibu saya tetap menghasilkan uang dengan membuka toko kelontong di rumah untuk membantu perekomian keluarga.

Inilah alasan pertama saya ingin bekerja dari rumah. Sebagai anak, tugas saya suatu saat nanti adalah meneruskan estafet toko ibu saya ini. Belum menjadi toko yang besar memang, namun untuk mengarah kesana tentu perlu persiapan juga.

Latar belakang keluarga besar saya yang sebagian besar berwirausaha baik barang maupun jasa adalah hal kedua yang andil membentuk pola pikir saya tentang proses mendapat penghasilan. Bahwa bekerja itu tidak selalu harus ngantor. Apapun yang dikerjakan dengan bersungguh-sungguh, asal halal, in shaa Allah menjadi rizki yang berkah bagi keluarga.

Yang selanjutnya adalah saya ingin lebih fokus mengurus keluarga. Saya begitu takjub dengan perempuan yang merelakan dirinya mengabdi sepenuhnya untuk keluarga, tapi di sisi lain masih bisa eksis dengan karya mereka dari rumah. Tentu saja, keluarga adalah prioritas utama. sementara eksistensi sang perempuan adalah setelahnya.

Untuk mewujudkan cita-cita bekerja dari rumah, saya telah resign dari pekerjaan-pekerjaan saya sebelumnya. Sekarang saya bekerja sebagai guru privat dan freelance di sebuah bimbel. Saya dapati, saya lebih nyaman bekerja secara independent seperti ini. Dari segi waktu, saya bisa menentukan kapan saya harus bekerja dan kapan saya ingin libur. Pun, saya bisa mengatur berapa banyak murid les yang ingin saya handle tanpa mengganggu me time.

Dulu, saat masih bekerja kantoran, me time adalah momen langka. Apalagi saya bekerja di dua tempat sekaligus, dari pagi hingga malam. Makanya, sekarang saya puas-puaskan diri untuk lebih sering menyenangkan diri :D.

Menjadi guru les privat atau saya lebih suka menyebut sebagai independent learning coach :D adalah batu loncatan untuk  cita-cita berikutnya. Ini adalah langkah awal bagi saya untuk mempromosikan diri. Semakin banyak orang yang mengenal saya di bidang ini, mudah-mudahan nanti dapat memudahkan cita-cita saya membuka lembaga bimbingan belajar.

Ya, selain mengembangkan toko kelontong Ibu saya, saya juga ingin membuka lembaga bimbingan belajar di rumah. Hal ini sudah terpikirkan sejak saya duduk di bangku kuliah. Buat saya, ini adalah salah satu cara mengamalkan ilmu yang saya miliki.

Selain itu, berhubung sekarang saya juga ngeblog, pastinya blogging menjadi aktifitas lain yang ingin saya lakukan. Alhamdulillah, meski terbilang masih sangat ‘balita’ di dunia blogging, saya sudah pernah merasakan manisnya berkah menjadi seorang blogger. Walapun baru dua kali menang giveaway ini dan ini, saya senang luar biasa.

Tambah semangat lagi saat saya melihat para blogger senior yang sudah bisa menghasilkan uang dari dunia keren ini. Mudah-mudahan berkah ngeblog lainnya –termasuk job review- bisa saya rasakan juga nanti, aamiin.

Itu tadi tiga hal yang akan saya lakukan untuk bekerja dari rumah. Yang pasti saya harus banyak persiapan dan banyak belajar untuk bisa bekerja dari rumah. Termasuk banyak belajar dari para perempuan hebat yang telah sukses bekerja dari rumah seperti yang terdapat di buku “Sukses Bekerja dari Rumah” karya Brilyantini. Bukan cuma itu saja. Konon, dari review yang pernah saya baca, di buku ini juga terdapat tips dan trik untuk tetap berkarya meski dari rumah. Juga strategi bagaimana cara memulai bekerja  dari rumah. Pas sekali dengan kebutuhan saya. Mudah-mudahan nanti saya bisa memiliki buku keren itu supaya saya bisa mewujudkan impian saya untuk bekerja dari rumah. Jadi, bekerja dari rumah? Ya tak masalah :).

**********************************
post signature

Jumat, 01 Mei 2015

Pertemuan Tak Terduga


Menjadi buruh migran bisa jadi bukan impian. Tapi keadaan membuat seseorang memutuskan untuk mengubur impian masa muda demi keluarga. Dan itu dialami salah satu sahabat saya yang saya temui secara tak sengaja. Oh ya, seperti yang pernah saya ceritakan di sini, dulu saya pernah bekerja di radio. Di sinilah takdir mempertemukan saya dengan sahabat lama saya itu.
 
Ceritanya, siang itu saya buru-buru keluar dari kantor studio untuk bersiap-siap mengajar. Dengan sedikit berlari saya menuju ke parkiran. Sambil lalu saya menyapa mbak-mbak petugas  piket. Tapi tiba-tiba langkah saya dihentikan oleh sebuah suara yang memanggil-manggil nama saya.

Sambil tolah toleh, saya cari sumber suara tadi. Sepertinya berasal dari meja piket. Tapi siapa yang memanggil ya? tanya saya dalam hati sembari mendekati meja piket. Saya lihat di sana ada 2 orang perempuan berseragam putih. Sejurus kemudian salah satu di antaranya berjalan mendekat.

“Mbak, masih inget aku nggak?” tanya perempuan itu. Saya berpikir keras mencoba mengingat-ingat seraut wajah yang ada di depan saya. Sepertinya memang pernah ketemu, tapi di mana ya?

“Temenmu pas SMP, Heni”, katanya menyebut namanya.

“Heni?” ulang saya.

Oh, ya. Sekarang baru saya ingat. Langsung kami berpelukan melepas rindu. Cukup lama kami tidak ketemu. Lulus SMP, masing-masing melanjutkan ke sekolah yang berbeda.  Sejak itu praktis kami tidak pernah ketemu. Dulu kami  sekelas di kelas satu. Tapi tunggu, dulu badannya nggak sekurus ini, saya membatin. Terus, kenapa dia di sini? Pakai seragam piket pula. Jangan-jangan…, saya membatin lagi.

“ Gimana kabarnya?” tanya saya setelah kami heboh berpelukan.
“Sehat. Kamu gimana?” dia balik bertanya.
“Alhamdulillah, sehat juga”.
“Mau berangkat kemana?” tanya saya kemudian.
“Ke Hong Kong,” jawabnya.
 
Gambar dari sini


Berarti benar dugaan saya. Dia di sini karena mau kerja di luar negeri. Bos di tempat saya on air punya beberapa lini bisnis, di antaranya radio dan PJTKI khusus wanita yang kantornya dalam satu gedung. Kantor radio di lantai atas, sedang PJTKI di lantai bawah. Setiap calon TKI mendapat tugas piket kantor melayani keperluan orang kantor, baik yang di radio maupun di PJTKI.

“Kok aku nggak pernah lihat kamu,” ujar saya.
“Iya. Aku baru seminggu di sini. Baru hari ini dapet tugas piket,”
“Udah nikah?” tanyanya tiba-tiba.
“Belum. Kamu?” jawab saya sambil balik tanya.
“Hehe! Belum juga. Aku baru pulang dari Singapura,” jawabnya.
“Gunik anaknya udah tiga lho,” lanjutnya bercerita tentang salah satu teman kami yang juga tetangganya.
“Kamu cari duit terus sih,” canda saya. Dia terkekeh.
“Adikku banyak, say”, ujarnya.

Satu pernyataan yang membuat saya tahu alasan dia kerja hingga ke negeri orang. Kemudian dia cerita, sebelumnya dia kerja di Arab Saudi selama 6 tahun. Pulang ke Indonesia sebentar kemudian berangkat lagi ke Singapura. Dan sekarang, dia di sini, di tempat saya kerja, dia sedang dalam penampungan untuk persiapan kerja ke Hong Kong demi membantu keluarganya, menyekolahkan adik-adiknya. Jadi, selepas SMA, dia langsung kerja ke luar negeri. Sungguh satu perjuangan yang membuat saya angkat topi dengan semangat kerjanya.

Setelah ngobrol beberapa saat dan bertukar nomer hape, saya pamit karena akan mengajar. Sepanjang perjalanan, saya mencoba merekonstruksi kenangan-kenangan masa SMP. Kenangan ketika kami sekelas dulu. Heni termasuk anak pendiam. Tapi saya sungguh tidak menyangka dia punya tekat sekuat itu untuk meraup dolar di negeri orang.

Dan sepanjang perjalanan itu terasa ada yang mengiris hati saya. Ada kesedihan yang tiba-tiba menjalar memenuhi rongga dada. Sungguh suatu ironi antara keadaan saya dan keadaannya. Dulu, pada saat saya sedang menikmati peran saya sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua, Heni juga sama, jauh dari orang tua. Tapi dengan kondisi yang sangat berbeda. Dia sedang berjuang di negeri orang, mendulang rezeki demi keluarganya.

Bukan, bukan saya meremehkan pekerjaannya menjadi tenaga kerja di luar negeri. Justru saya salut sekali dengan apa yang dia lakukan. Saya hanya merasa sedih. Sedih karena teman saya harus melakoni peran yang cukup berat, menjadi tulang punggung keluarga ketika seharusnya dia menikmati masa-masa mudanya. Bahkan bertahun-tahun lamanya.

Heni adalah potret nyata keadaan sosial negeri saya. Dan bisa jadi Heni bukan satu-satunya teman saya yang harus merelakan waktunya untuk bekerja keras demi kelangsungan hidup keluarganya. Karena memang sepertinya kerja ke luar negeri masih menjadi jalan paling gampang untuk meraup rupiah sebanyak-banyaknya meski dengan resiko yang tidak sedikit.

Di sisi lain saya bersyukur sekali. Petemuan dengan sahabat lama saya ini membuka mata saya, bahwa saya memang harus banyak-banyak bersyukur dengan segala hal yang Allah berikan pada saya.  Bahwa keadaan saya, bagaimanapun, jauh lebih baik dari dia. Saya tidak perlu kerja ke luar negeri, membanting tulang membantu perekonomian keluarga.

Pada akhirnya, saya hanya bisa berdoa mudah-mudahan Heni dan Heni-Heni lainnya dapat menjalankan misi mulianya dengan sebaik-baiknya, tanpa hambatan. Serta kembali ke tanah air dengan selamat dan dengan hasil gemilang, aamiin.


post signature