Tampilkan postingan dengan label Kirab Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kirab Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 September 2019

Tajug Gumregah di Haul KRMA Mertonegoro



Bagi masyarakat Ponorogo, jelang bulan Muharram atau Suro terbilang istimewa. Kenapa? Karena ada event tahunan Grebeg Suro. Dan salah satu agenda Grebeg Suro yang paling dinanti adalah kirab pusaka.

Kirab pusaka  memang hanya dilaksanakan setahun sekali. Tepatnya di hari terakhir bulan Dzulhijjah. Atau bulan Besar kalau orang Jawa bilang. Sementara tanggal 1 Suro-nya ada acara Larung Risalah Doa di Telaga Ngebel. Sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota.

Kirab ini biasanya mengambil rute awalan dari Kota Lama di kawasan timur Pasar Pon, melewati jalan utama, dan berakhir di alun-alun Ponorogo. Salah satu tujuan penyelenggaraan acara ini adalah untuk napak tilas perjalanan berdirinya Kota Reyog di masa lalu.

Nah, beberapa tahun belakangan ini, acara serupa tidak hanya diselenggarakan oleh Pemkab setempat. Tapi juga di sejumlah desa di wilayah Ponorogo. Memang, ada beberapa desa yang memiliki kaitan erat dengan sejarah masa lalu Ponorogo. Salah satunya kampung kelahiran saya, Desa Tajug. Hanya namanya sedikit diubah menjadi kirab budaya.

Senin, 31 Agustus 2015

Pagelaran Kirab Budaya Daerah Ponorogo VIII


Bulan Agustus bisa dibilang salah satu bulan istimewa bagi Kota Ponorogo. Bukan hanya karena ada peringatan tujuhbelasan ya. Tapi, kampung halaman saya ini lagi punya gawe peringatan hari jadinya. Tahun ini, kota reyog ini usianya sudah 519 tahun. Lumayan sepuh memang. Karena kabupaten Ponorogo berdiri saat masih jaman kerajaan dulu.

Bulan istimewa lainnya bagi Ponorogo adalah bulan Muharram atau Syuro. Tapi sekarang saya pengen ngomongin ulang tahunnya saja. Lain kali ngomongin gawe di bulan Syuro yang lebih seru.

Ponorogo ultah tepatnya tanggal 11 Agustus, merujuk pengangkatan Batoro Katong sebagai adipati/bupati pertamanya. Nah, setiap tahun, banyak sekali kegiatan yang diadakan untuk memeriahkan hari jadinya.

Tahun ini pun begitu. Ada pemilihan Thole Gendhuk alias Duta Wisata Cilik, parade reyog yang menghadirkan lebih dari 200 reyog di alun-alun, festival reyog mini, pameran indsutri kecil dan tanaman hias, lomba karawitan pelajar, hingga parade atau kirab budaya.

Sayangnya, hampir semua kegiatannya berlangsung sore hingga malam dan berbenturan dengan jam kerja saya. Jadinya, saya tidak bisa menyaksikan pagelaran istimewa itu, hickzz...

Untungnya (masih merasa beruntung :P), masih ada salah satu kegiatan yang bisa saya ikuti: kirab budaya. Inipun saya bisa nonton gegara memaksakan diri libur demi menemani saudara saya yang lagi mudik XD (padahal dalam hati seneng banget bisa nonton hihihi).

Jadinya, hari Minggu jelang ashar, 9 Agustus lalu, kami meluncur ke Jalan Baru atau Jalan Suromenggolo. Menurut info, parade bakal melewati rute ini. Begitu sampai Jalan Baru, penonton sudah mulai berjubel. Tapi parade yang ditunggu belum muncul-muncul.   

Akhirnya, hampir jam setengah empat parade budaya ini muncul di rute Jalan Baru. Diawali kemunculan perempuan cantik berdandan ala Srikandi kerajaan lengkap dengan kuda sebagai tunggangannya. Disusul barisan pembawa spanduk bertuliskan Gelar Budaya Daerah VIII. Ya, parade ini sudah berlangsung ke-delapan kalinya. Bukan hanya diikuti oleh komunitas seni dan budaya dari dalam kota saja. Ada pula utusan dari beberapa daerah di Jawa Timur.


Seperti tahun ini, perwakilan Probolinggo menampilkan kesenian Jaran Bodhag. Sementara, dari Pulau Madura  menampilkan iring-iringan orang dengan kostum khas Madura.

Sebagian peserta utusan daerah lain
Tak mau kalah dengan utusan daerah lain, komunitas seni dan budaya Ponorogo menampilkan ragam keseniannya. Selain reyog yang jadi kesenian utama, ada iring-iringan tarian masal dari pelajar. Ada pula kesenian gajah-gajahan dan kesenian unta-untaan yang sedang ngehits ini.



Di ujung barisan, ada yang kejutan istimewa dari parade budaya tahun ini. Beberapa peserta tampil dengan kostum ala fashion carnival yang lumayan keren seperti berikut ini.

Kostum ala fashion carnival
Jadi, saya tidak begitu menyesal bela-belain libur ngajar demi kirab budaya ini kan :D.

Sampai jumpa di cerita berikutnya yaa ^_^