Tampilkan postingan dengan label Ponorogo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ponorogo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Februari 2020

Cegah DBD dengan Pembagian Bunga Lavender



Salah satu momok di musim hujan adalah penyakit DBD. Sudah jadi rahasia umum bila penyakit bawaan nyamuk nakal itu gampang menyebar. Terutama di negara dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia.

Hampir setiap tahun selalu ada berita tentang penyakit DBD dari berbagai daerah. Termasuk kota kelahiran saya, Ponorogo. Bahkan tahun lalu, DBD di Kota Reyog ditetapkan sebagai KLB alias kejadian luar biasa. Pasalnya, korbannya lebih dari 170 orang dan 3 di antaranya meninggal dunia.

Selasa, 31 Desember 2019

Tilik Desa ala Bupati Ipong Muchlissoni


Pekan lalu, desa saya mendapat kunjungan Bupati Ponorogo, Bapak drs. Haji Ipong Muchlissoni. Setelah tertunda dua kali, akhirnya terlaksana juga acara tilik desa ini. Bisa dibilang tilik desa kali ini cukup istimewa. Betapa tidak, setelah 1 dekade, baru tahun ini desa saya dikunjungi Bupati kembali. Terakhir, seingat saya, saat Ponorogo masih dipimpin Bupati Muhadi Suyono.

Sabtu, 21 September 2019

Tajug Gumregah di Haul KRMA Mertonegoro



Bagi masyarakat Ponorogo, jelang bulan Muharram atau Suro terbilang istimewa. Kenapa? Karena ada event tahunan Grebeg Suro. Dan salah satu agenda Grebeg Suro yang paling dinanti adalah kirab pusaka.

Kirab pusaka  memang hanya dilaksanakan setahun sekali. Tepatnya di hari terakhir bulan Dzulhijjah. Atau bulan Besar kalau orang Jawa bilang. Sementara tanggal 1 Suro-nya ada acara Larung Risalah Doa di Telaga Ngebel. Sekitar 30 menit berkendara dari pusat kota.

Kirab ini biasanya mengambil rute awalan dari Kota Lama di kawasan timur Pasar Pon, melewati jalan utama, dan berakhir di alun-alun Ponorogo. Salah satu tujuan penyelenggaraan acara ini adalah untuk napak tilas perjalanan berdirinya Kota Reyog di masa lalu.

Nah, beberapa tahun belakangan ini, acara serupa tidak hanya diselenggarakan oleh Pemkab setempat. Tapi juga di sejumlah desa di wilayah Ponorogo. Memang, ada beberapa desa yang memiliki kaitan erat dengan sejarah masa lalu Ponorogo. Salah satunya kampung kelahiran saya, Desa Tajug. Hanya namanya sedikit diubah menjadi kirab budaya.

Senin, 31 Agustus 2015

Kemeriahan Pawai Pembangunan Ponorogo 2015


Masih rajin nulis event yang ada di kampung kelahiran saya nih.

Kemeriahan Agustus ternyata belum berakhir. Jadi, Jum’at tanggal 28 kemarin, masih ada pawai pembangunan. Penyelenggaranya Pemda Ponorogo. Tiap tahun, pawai ini memang tidak pernah absen dari agenda Agustusan. Dan sepertinya ini menjadi event terakhir dari seluruh rangkaian acara di bulan Agustus tahun ini.

Berhubung hari Jum’at ada jadwal les di bimbel tempat saya freelance, maka jadwal yang seharusnya dimulai jam setengah tiga sore dimajukan setelah pulang sekolah. Jadilah, anak-anak dari sekolah langsung ke bimbel. Karena biasanya, bila ada event seperti ini jalanan macet. Lagipula anak-anak pasti merengek pengen nonton (gurunya juga hihihi).

Pawai pembangunan ini rutenya start dari pendopo alun-alun, kemudian ke arah timur melalui Jalan Jendral Soedirman hingga perempatan Jeruksing dekat rumah saya,  belok kiri ke arah Pasar Pon, kemudian Jalan Batoro Kaong lurus ke barat hingga perempatan Tambakbayan, dan berakhir di pendopo alun-alun lagi.

Jam dua siang jalanan sudah mulai ramai saat saya pulang lewat perempatan Jeruksing. Tapi belum ada tanda-tanda kemunculan kendaraan peserta pawai. Hemm, bisa pulang dulu nih, batin saya. Soalnya saya harus bawa pulang lauk buat ibu saya.

Jam tiga kurang, setelah sms tanya posisi Bulik saya yang sudah berangkat duluan nganter anaknya, saya berangkat ke perempatan Jeruksing. Seperti yang saya duga, parade pawai belum sampai sini.

Hampir setengah empat sore raungan sirine mobil polisi terdengar. Artinya kendaraan pawai sudah mendekati jalan tempat saya dan Bulik saya nonton. Bersama`warga lain yang semula duduk-duduk di depan toko orang, kami segera merapat ke jalan.

Pantesan sampai sini sudah sesore ini. Mobil-mobil peserta pawai jalannya sengaja diperlambat, mungkin sekitar 5 s/d 10 km/jam. Tujuannya tidak lain supaya warga bisa melihat dan menikmati pawai ini.

Yang khas dari pawai pembangunan adalah mobil-mobil yang dipakai dihias di sana-sini. Semuanya kreatif. Ada yang bikin model perahu. Ada yang bikin seperti rumah. Dan masih banyak lagi. Para peserta berlomba untuk menampilkan yang terbaik.   

Ada puluhan peserta yang meramaikan pawai pembangunan. Yang saya share di sini hanya sebagian saja. Ada yang dari lembaga pemerintahan, seperti berikut ini.



Lembaga pendidikan pun tak ingin kalah. Sebagian besar SD, SMP, SMA di Ponorogo ikut memeriahkan event tahunan ini.



Selain itu, beberapa perusahaan dan lembaga keuangan yang ada di Ponorogo juga tidak mau ketinggalan.

Satu lagi. Komunitas waria yang ada di kota reyog pun tidak ingin absen dari kemeriahan pawai ini. Mereka berdandan ala putri keraton yang bikin penonton tertawa karena tingkah lucu mereka :D.

Gimana dengan pawai pembangunan di kota teman-teman? Meriah juga kan?

post signature

Pagelaran Kirab Budaya Daerah Ponorogo VIII


Bulan Agustus bisa dibilang salah satu bulan istimewa bagi Kota Ponorogo. Bukan hanya karena ada peringatan tujuhbelasan ya. Tapi, kampung halaman saya ini lagi punya gawe peringatan hari jadinya. Tahun ini, kota reyog ini usianya sudah 519 tahun. Lumayan sepuh memang. Karena kabupaten Ponorogo berdiri saat masih jaman kerajaan dulu.

Bulan istimewa lainnya bagi Ponorogo adalah bulan Muharram atau Syuro. Tapi sekarang saya pengen ngomongin ulang tahunnya saja. Lain kali ngomongin gawe di bulan Syuro yang lebih seru.

Ponorogo ultah tepatnya tanggal 11 Agustus, merujuk pengangkatan Batoro Katong sebagai adipati/bupati pertamanya. Nah, setiap tahun, banyak sekali kegiatan yang diadakan untuk memeriahkan hari jadinya.

Tahun ini pun begitu. Ada pemilihan Thole Gendhuk alias Duta Wisata Cilik, parade reyog yang menghadirkan lebih dari 200 reyog di alun-alun, festival reyog mini, pameran indsutri kecil dan tanaman hias, lomba karawitan pelajar, hingga parade atau kirab budaya.

Sayangnya, hampir semua kegiatannya berlangsung sore hingga malam dan berbenturan dengan jam kerja saya. Jadinya, saya tidak bisa menyaksikan pagelaran istimewa itu, hickzz...

Untungnya (masih merasa beruntung :P), masih ada salah satu kegiatan yang bisa saya ikuti: kirab budaya. Inipun saya bisa nonton gegara memaksakan diri libur demi menemani saudara saya yang lagi mudik XD (padahal dalam hati seneng banget bisa nonton hihihi).

Jadinya, hari Minggu jelang ashar, 9 Agustus lalu, kami meluncur ke Jalan Baru atau Jalan Suromenggolo. Menurut info, parade bakal melewati rute ini. Begitu sampai Jalan Baru, penonton sudah mulai berjubel. Tapi parade yang ditunggu belum muncul-muncul.   

Akhirnya, hampir jam setengah empat parade budaya ini muncul di rute Jalan Baru. Diawali kemunculan perempuan cantik berdandan ala Srikandi kerajaan lengkap dengan kuda sebagai tunggangannya. Disusul barisan pembawa spanduk bertuliskan Gelar Budaya Daerah VIII. Ya, parade ini sudah berlangsung ke-delapan kalinya. Bukan hanya diikuti oleh komunitas seni dan budaya dari dalam kota saja. Ada pula utusan dari beberapa daerah di Jawa Timur.


Seperti tahun ini, perwakilan Probolinggo menampilkan kesenian Jaran Bodhag. Sementara, dari Pulau Madura  menampilkan iring-iringan orang dengan kostum khas Madura.

Sebagian peserta utusan daerah lain
Tak mau kalah dengan utusan daerah lain, komunitas seni dan budaya Ponorogo menampilkan ragam keseniannya. Selain reyog yang jadi kesenian utama, ada iring-iringan tarian masal dari pelajar. Ada pula kesenian gajah-gajahan dan kesenian unta-untaan yang sedang ngehits ini.



Di ujung barisan, ada yang kejutan istimewa dari parade budaya tahun ini. Beberapa peserta tampil dengan kostum ala fashion carnival yang lumayan keren seperti berikut ini.

Kostum ala fashion carnival
Jadi, saya tidak begitu menyesal bela-belain libur ngajar demi kirab budaya ini kan :D.

Sampai jumpa di cerita berikutnya yaa ^_^