Bulan
Agustus bisa dibilang salah satu bulan istimewa bagi Kota Ponorogo. Bukan hanya
karena ada peringatan tujuhbelasan ya. Tapi, kampung halaman saya ini lagi
punya gawe peringatan hari jadinya. Tahun ini, kota reyog ini usianya sudah 519
tahun. Lumayan sepuh memang. Karena kabupaten Ponorogo berdiri saat masih jaman
kerajaan dulu.
Bulan
istimewa lainnya bagi Ponorogo adalah bulan Muharram atau Syuro. Tapi sekarang
saya pengen ngomongin ulang tahunnya saja. Lain kali ngomongin gawe di bulan
Syuro yang lebih seru.
Ponorogo
ultah tepatnya tanggal 11 Agustus, merujuk pengangkatan Batoro Katong sebagai
adipati/bupati pertamanya. Nah, setiap tahun, banyak sekali kegiatan yang
diadakan untuk memeriahkan hari jadinya.
Tahun
ini pun begitu. Ada pemilihan Thole Gendhuk alias Duta Wisata Cilik, parade
reyog yang menghadirkan lebih dari 200 reyog di alun-alun, festival reyog mini,
pameran indsutri kecil dan tanaman hias, lomba karawitan pelajar, hingga parade
atau kirab budaya.
Sayangnya,
hampir semua kegiatannya berlangsung sore hingga malam dan berbenturan dengan
jam kerja saya. Jadinya, saya tidak bisa menyaksikan pagelaran istimewa itu,
hickzz...
Untungnya
(masih merasa beruntung :P), masih ada salah satu kegiatan yang bisa
saya ikuti: kirab budaya. Inipun saya bisa nonton gegara memaksakan diri libur demi
menemani saudara saya yang lagi mudik XD (padahal dalam hati seneng banget bisa
nonton hihihi).
Jadinya,
hari Minggu jelang ashar, 9 Agustus lalu, kami meluncur ke Jalan Baru atau Jalan
Suromenggolo. Menurut info, parade bakal melewati rute ini. Begitu sampai Jalan
Baru, penonton sudah mulai berjubel. Tapi parade yang ditunggu belum
muncul-muncul.
Akhirnya,
hampir jam setengah empat parade budaya ini muncul di rute Jalan Baru. Diawali
kemunculan perempuan cantik berdandan ala Srikandi kerajaan lengkap dengan kuda
sebagai tunggangannya. Disusul barisan pembawa spanduk bertuliskan Gelar Budaya
Daerah VIII. Ya, parade ini sudah berlangsung ke-delapan kalinya. Bukan hanya
diikuti oleh komunitas seni dan budaya dari dalam kota saja. Ada pula utusan
dari beberapa daerah di Jawa Timur.
Seperti
tahun ini, perwakilan Probolinggo menampilkan kesenian Jaran Bodhag. Sementara,
dari Pulau Madura menampilkan
iring-iringan orang dengan kostum khas Madura.
![]() |
Sebagian peserta utusan daerah lain |
Tak
mau kalah dengan utusan daerah lain, komunitas seni dan budaya Ponorogo
menampilkan ragam keseniannya. Selain reyog yang jadi kesenian utama, ada
iring-iringan tarian masal dari pelajar. Ada pula kesenian gajah-gajahan dan
kesenian unta-untaan yang sedang ngehits ini.
Di
ujung barisan, ada yang kejutan istimewa dari parade budaya tahun ini. Beberapa
peserta tampil dengan kostum ala fashion carnival yang lumayan keren
seperti berikut ini.
![]() |
Kostum ala fashion carnival |
Jadi, saya tidak begitu menyesal
bela-belain libur ngajar demi kirab budaya ini kan :D.
Sampai jumpa di cerita berikutnya yaa ^_^
Wow...keren!klo ada acara beginian.....yang saya pikirkan adalah ngajak anak2 nonton....mesti mereka seneng bngt mbak..
BalasHapusYup, pasti anak2 seneng kalo ada keramaian macam ini. di Jogja jg ada kan Mbak?
Hapusdi jogja juga baru ada FKY ni mak vhoy.. tapi seruan di ponorogo kayaknya.. ^_^
BalasHapusOh ya? Keliling kota juga ya Mak Prima? Seru pastinya ^_^
Hapuswah ramai juga ya ponorogo pastinya ada reognya.... dan kulinernya dawet di pasar ponorogo itu enak banget
BalasHapusIya Mamah Tira. Hayuk mudik ke Ponorogo lagi hihihi
HapusDandanannya seru2 ya.mak
BalasHapusIya Mak Nur. DI daerah Mak Nur ada juga kah?
Hapuswow benar-benar meriah dan antusias yaa peserta pawai dan penontonnya mba...keren...
BalasHapusIy Mbak, lumayan rame. Hiburan banget buat masyarakat hehehe
Hapus