Tampilkan postingan dengan label WISATA KULINER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA KULINER. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 November 2016

Steak Tahu dan Steak Jamur di Angkringan Steak & Chicken


Assalamu’alaikum, Sahabat dunia maya.
Apa kabar?
Semoga semua sehat ya ^_^.

Setelah sekian bulan didera rasa malas buka laptop, hari ini saya mencoba memaksakan diri nulis lagi. Ternyata memang harus ada paksaan dari diri sendiri ya supaya mood menulis balik lagi :D.

Sebagai pemanasan, saya mau cerita yang ringan-ringan saja. Kali ini soal menu makanan yang baru saja saya nikmati.

Senin, 11 Mei 2015

[Kuliner Ponorogo #1] Sego Pecel Godhong Jati


Ponorogo, kota kecil perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa tengah ini, tidak hanya terkenal akan reyog-nya yang sudah mendunia. Potensi kulinernya juga sayang untuk dilewatkan. Memenuhi janji saya setelah saya menang giveaway bakcpackology.me., ini tulisan pertama saya.  

Bagi masyarakat Ponorogo, sarapan identik dengan nasi pecel. Meski sekarang di Ponorogo banyak sekali menu sarapan lain, seperti bubur ayam, soto, dll, nasi pecel tetap menjadi primadona. Pecel Ponorogo –terutama sambal kacangnya- berbeda dari tempat lain. Rasanya beda. Khas banget. Orang Ponorogo yang pernah atau sedang merantau ke kota lain pasti tahu hal ini.

Meski pecel Madiun lebih populer di kota-kota lain, pecel Ponorogo selalu medapat tempat tersendiri bagi penggemarnya. Tak terkecuali teman-teman saya yang pernah sekolah atau tinggal di sini. Bila mereka berkunjung ke Ponorogo, tujuan kuliner pertama adalah pecelnya.  

Selain sambal, yang membedakan adalah penampilannya. Pecel Ponorogo, terutama yang saya ceritakan ini, disajikan dengan menggunakan daun jati. Aroma khas daun jati akan semakin membuat nasi pecel yang dimakan lebih ‘nendang’.

Di dekat rumah saya, ada warung nasi pecel yang menggunakan daun jati untuk membungkusnya. Memang, kadang bila daun jatinya habis, bungkusnya harus diganti kertas nasi yang dialasi daun pisang atau daun jati kecil. Tapi, bila stok daun jatinya ada, Anda akan beruntung menikmati sego pecel godhong jati khas Ponorogo.

Bila makan di tempat, pecel disajikan dengan piring seperti biasa. Tapi, kita bisa minta disajikan dengan daun jati. Orang jawa bilang dipincuk. Daun dibentuk menyerupai piring kemudian dikaitkan dengan biting; potongan lidi yang tajam di ujungnya seperti tusuk sate.

Sego pecel godhong jati pincuk (Dok. pribadi)

Cukup dengan uang Rp. 4.000,- s/d Rp. 5.000,-, kita sudah bisa menikmati sego pecel godhong jati. Yang mau merasakan nasi pecel mantap ini, bisa datang ke Desa Tajug, 200 m timur Taman Wisata Ngembak. 

Di sini, ada dua warung yang terkenal dengan nasi pecelnya yang menggoda selera. Yang satu warung pecel Mbok Mesinem, berada di pinggir jalan raya penghubung Kecamatan Pulung. Satu lagi warung pecel pedes Mbah Temi, masuk ke jalan desa. Kedua warung ini sama-sama menyajikan sambal pedas. Para penggemar selera pedas tidak boleh melewatkan menu sehat yang satu ini.

Yang membedakan adalah pilihan lauknya. Di warung Mbok Mesinem, Anda bisa memillih tempe, rempeyek kacang atau teri untuk lauknya plus taburan remahan gorengan yang biasa disebut gogrogan. Sementara di warung Mbah Temi, ada pilihan tempe yang renyah banget dan klothok atau ikan asin.

Rasanya? Jangan tanya lagi. Perpaduan antara sayur dan sambal pedas plus lauknya enak dan mantap. Ditambah aroma khas daun jati yang semriwing, membuat selera makan semakin bertambah. Sekali merasakan sego pecel godhong jati ini, dijamin  ingin makan lagi :D. 

Makan nasi pecel paling pas ditemani secangkir kopi. Jadi, mau sarapan pecel pagi ini? Silakan datang ke warung sego pecel godhong jati ^_^.


post signature

Minggu, 25 Januari 2015

Mie Pedas Gokil


Dapat ajakan makan siang gratis; siapa yang bisa nolak? Apalagi menunya kesukaan saya: mie. Ya, saya penyuka mie: mie ayam, mie instan, mie goreng, mie rebus, apapun yang berbahan mie.

Pada waktu yang telah disepakati, saya ketemu sahabat saya, Unuy, di sebuah kedai mie di jalan Tangkuban Perahu, Ponorogo. Kedai ini milik teman kami yang buka belum ada seminggu. Namanya kedainya Mie Pedas Gokil. Tempatnya cukup strategis. Ruangannya juga nyaman.

Sekedar info, di Ponorogo memang lagi demam warung mie. Ada yang namanya Omah Pedes, ada Mie Pedes, ada juga Mie Judes dengan tagline ‘pedasnya ngalahin lidah mertua’. Ada-ada saja memang hehehe! Dan semua menawarkan menu pedas dengan berbagai level. Tak terkecuali kedai teman kami ini.

Setelah melihat menu, kami memilih mie kuah telur + bakso. Minumnya es jeruk nipis dan es susu.  Saya memilih level 2 untuk rasa pedasnya. Saat saya tanya berapa cabenya, mas pelayannya bilang 6 biji cabe. Lumayan lah. Kebetulan saya belum makan dari pagi jadi saya tidak berani terlalu pedas. Sahabat saya memilih level 3; sekitar 9 biji cabe.

Tak lama, minuman pesanan datang. Es jeruk nipisnya seger banget. Asli. Kecut. Dan sari jeruknya banyak. Saya suka saya suka *ala Mei Mei :D. Es susu yang diminum sabahat saya juga kelihatan mantap. 10 menit kemudian, menu makan siang kami datang. Mie kuah telur + bakso. Cabenya asli. Diiris tipis-tipis dan dicampur ke dalam mie. Bijinya yang banyak tampak menempel di atas mie. Topping-nya telur mata sapi matang, 2 butir bakso, sawi, tahu goreng potong dadu, dan beberapa irisan timun. Hemmm, yummiii...
 
Mie kuah telur + bakso pedas level 2 & es jeruk nipis segerr

Biji cabe-nya nempel di mie.

Saat testing pedasnya lumayan di lidah. Mie-nya bulat gilig, kecil, dan panjang. Kok seperti mie instan ya? Setelah saya makan, ternyata benar. Ini mie instan pemain lama di Indonesia. Rasanya ayam bawang. Merk terkenal. Kok tahu?? Karena rasa mie ‘itu’ khas menurut saya. Serbuk bumbu yang menempel di mangkok juga semakin meyakinkan bila itu memang mie instan.

Untung saja kuahnya cukup menghibur kekecewaan saya. Kuahnya berwarna coklat gelap. Tidak bening seperti bila bikin sendiri di rumah dengan bumbu yang sudah ada. Artinya ini diberi bumbu tambahan selain bumbu bawaan mie-nya. Kuahnya juga tidak encer, agak sedikit kental. Pas. Enak. So, mari kita habiskan.

Tak butuh waktu lama, mie dalam mangkuk itu sudah berpindah ke perut. Lumayan mengenyangkan. Bikin mulut sedikit mendesis karena kepedasan. Es jerukpun habis tandas. Alhamdulillah...

O iya, sekedar info. Harga mie yang saya pesan tadi Rp. 9.000,- per porsi. Es jeruk nipis Rp. 3.000,-. Es susu Rp. 5.000,-. Masih terjangkau kantong kan?

Yang mau coba mie pedas level lainnya bisa datang ke sini yaa..